Filsafat Ilmu

MAKALAH FILSAFAT ILMU
FILSAFAT DALAM PROSES MANAJEMEN
Diajukan sebagai tugas mata kuliah
Filsafat Ilmu

 




OLEH :
EDDY RAKHMAD PUTRA
NPM: 1720030035







PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
2017


Filsafat Dalam Proses Manajemen


A.   Struktur Filsafat

1.  Secara Umum
Filsafat merupakan dasar atau ibu dari segala ilmu pengetahuan. Kita dapat menemukannya dari dua artian yang ada yang pertama menurut kamus besar bahasa Indonesia, sedangkan berikutnya berdasarkan pengertiannya secara etimologi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
Filsafat adalah :

  1. Pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada,sebab, asal, dan hukumnya
  2. Teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan
  3. Ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi
  4. Falsafah

Kita dapat mengambil beberapa pengertian dari filsafat itu sendiri. Menurut pendapat secara pribadi saya mendukung pengertian poin yang ke 3 di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dimana filsafat sebagai Ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi. Ini berarti bahwa ada beberapa unsur yang terkandung didalam filsafat itu yang dengan sendirinya menjadi bagian atau nukleus (inti sel) dari filsafat itu yang tak dapat dipisahkan dari filsafat itu sendiri.
Menurut penelahaan secara lanjut di Kamus Besar Bahasa Indonesia, saya menemukan makna-makna dari unsur yang terkandung didalam filsafat itu.
Unsur-Unsur Filsafat
(Artiannya Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia)

  1. Logika             : Jalan pikiran yang masuk akal. Pengetahuan tentang kaidah berpikir
  2. Estetika           : Cabang filsafat yang menelaah dan membahas tentang seni dan keindahan serta tanggapan mansia terhadapnya. Kepekaan terhadap seni dan keindahan
  3. Metafisika       : Ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hal-hal nonfisik atau tidak kelihatan
  4. Epistemologi   : Cabang ilmu filsafat tentang dasar-dasar dan batas-batas pengetahuan

Jadi kemudian dari pengertian yang berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, saya dapat menyimpulkan bahwa sebuah filsafat memiliki unsur-unsur yang membangunnya menjadi satu dasar yang kuat akan segala sesuatu. Semuanya disebabkan karena unsur-unsur penting yang dikandungnya sebagai nukleus, yaitu; logika, estetika, metafisika, dan epistemoligi. Hal ini dapat diartikan bahwa filsafat hakekatnya didasarkan atas logika atau jalan pikiran yang masuk akal, kemudian estetika atau kepekaan seni dan keindahan, metafisika atau ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hal yang tidak kelihatan, serta epistemologi atau dasar-dasar dan batas-batas pengetahuan yang menjadi suatu rambu-rambu yang membatasi ruang lingkup ilmu pengetahuan itu secara khusus.
Kemudian filsafat secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri atas philein dan sophia. Philien artinya cinta dan sophia berarti kebijakan. Filsafat berarti cinta kebijakan . Cinta hasrat, kemauan, atau keinginan yang besar atau yang berkobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijakan artinya kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Filsafat berarti hasrat, kemauan, atau keinginan yang sungguh-sungguh akan kebenaran sejati.
Jadi pengertian filsafat secara umum merupakan lmu pengetahuan yang mengkaji hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran. Ilmu pengetahuan tentang hakikat menanyakan apa hakikat/sari/inti/esensi segala seuatu. Dengan cara itu jawaban yang akan diberikan berupa kebenaan yang hakiki, yaitu sesuati dengan arti filsafat menurut kata-katanya.
Moekijat mengemukakan bahwa filsafat adalah suatu sistem pemikiran yang menjelaskan gajala tertentu dan memberikan serangkaian prinsip untuk memecahkan permasalah yang berhubungan dengan pencapaian suatu tujuan tertentu (Moekijat,1980 : 318). Singkatnya suatu filsafat adalah suatu cara hidup.

Filsafat memiliki:
  1. Tujuan tertentu
  2. Beberapa nilai yang berhubungan dengan pencapaian tujuan, dan
  3. Keyakinan pada pihak para penganuh bahwa nilai dan tujuan akhir bernilai untuk dikejar

Pada akhirnya kita dapat simpulkan bahwa filsafat adalah suatu cara hidup

2. Di Dalam Manajemen

Filsafat adalah petunjuk utama yang menggarisbawahi semua tindakan dari seorang manejer.
Filsafat manajemen adalah bagian yang terpenting dari pengetahuan dan kepercayaan yang memberikan dasar yang luas untuk menetapkan pemecahan permasalah manajerial. Filsafat manajemen memberikan dasar bagi pekerjaan seorang manajer. Seorang manajer memerlukan kepercayaan dan nilai yang pokok untuk memberi petunjuk sesuai dan dapat dipercaya guna menyelesaikan pekerjaan. Filsafat manajemen juga memberikan desain sehingga seorang manajer dapat mulai berpikir. Filsafat manajemen amat berguna karena dapat digunakan untuk memperoleh bantuan dan pengikut. Filsafat manajemen memberikan pemikiran dan tindakan yang menguntungkan dalam majamen dan membantu kepada sifatnya yang dinamis dan memberi tantangan.
Dalam filsafat manajemen, terkandung dasar pandangan hidup yang mencerminkan keberadaan, identitas, dan implikasinya guna mewujudkan efisiensi  dan efektivitas dalam pekerjaan manajemen. Untuk  merealisasikan tujuan diperlukan beberapa faktor penunjang sehingga merupakan kombinasi yang terpadu, baik menyangkut individu maupun kepentingan umum. Hal ini dimaksudkan adanya keseimbangan di diantara faktor-faktor yang diperlukan dalam mencapai suatu kekuatan untuk mengejar hasil yang maksimum.
Menurut Davis dan Filley dalam Ukas (1978) terdapat faktor-faktor dasar dalam filsafat manajemen yang diperlukan dan memiliki hubungan saling ketergantungan satu sama lain dalam mencapai tujuan. Faktor-faktor dasar tersebut meliputi hal-hal berikut:

  1. Kepentingan umum. Hal ini dimaksudkan bahwa dalam penyelenggaraan suatu organisasi harus terlihat adanya cerminan deskripsi berbagai kepentingan, baik kepentingan pemilik, manajer, para bawahan, maupun kepentingan masyarakat lingkungannya.
  2. Tujuan usaha. Tujuan usaha adalah perwujudan aktivitas yang spesifik dari organisasi, baik organasi yang bertujuan mencari laba maupun organisasi yang tidak bertujuan mencari laba. Tujuan usaha pada umumnya dapat dikategorikan dalam tiga bentuk, yaitu tujuan  utama, tujuan kedua, dan tujuan tambahan.
3.      Pimpinan pelaksana. Pimpinan pelaksana adalah individu yang diberikan kepercayaan untuk memimpin suatu usaha dengan meenggunakkan otoritas yang telah diberikan kepadanya.
  1. Kebijakan. Kebijakan adalah pernyataan atau ketentuan umum yang menuntut atau menyalurkan pemikiran menjadi pengambil keputusan oleh bawahan, serta memberikan arah ke mana organisasi tersebut akan dikemudikan.
  2. Fungsi. Fungsi adalah aktivitas yang berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai setiap organisasi sebagaimana halnya individu pasti memiliki tujuan yang ingin dicapai
  3. Faktor dasar. Faktor dasar meliputi faktor-faktor produksi asli atau turunan, baik berupa alam, tenaga, modal, serta pendukungnya yang merupakan elemen yang harus ada dalam penyelenggaraan organisasi.
  4. Struktur organisasi. Struktur organisasi adalah saluran yang menunjukkan hubungan kerja antara menajer dan bawahan dalam melaksanakan pekerjaan yang disertai dengan otoritas dan tanggung jawab serta kesanggupan untuk tanggung gugat/mempertanggungjawabkan (accountability).
  5. Prosedur. Prosedur adalah tahapan tindakan yang harus ditempuh untuk menyelesaikan suatu pekeraan tertentu
  6. Moral kerja. Moral kerja adalah kondisi mental dari individu atau kelompok yang memnentukan sikap bawahan dalam menerima pekerjaan dalam mengoperasikannya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tujuan akhir. Untuk memperoleh efektivitas dari deskripsi filsafat maupun manajemen yang dapat memberikan petunjuk pemikiran bagi suatu aktivitas organisasi dalam mencapai tujuan tertentunya, faktor-faktor diatas dapat digunakan sebagai daftar pengecek terhadap analisis aktivitas yang menjadi norma tindakan dan aktivitas manajemen.

Kesembilan faktor diatas sangat berperan penting dalam mendorong pengrealisasian tujuan. Sembilan faktor diatas merupakan kombinasi yang terpadu, baik menyangkut individu maupun kepentingan umum. Dengan adanya keseimbangan di diantara faktor-faktor yang diperlukan kita dapat memperoleh suatu kekuatan untuk mengejar hasil yang maksimum. Pada akhirnya kita harus mengingat bahwa Filsafat Manajemen memberikan dasar bagi pekerjaan seorang manajer.
3.    Struktur Filsafat Manajemen
 Filsafat Manajemen terdiri dari :
  1. Sikap
  2. Keyakinan
  3. Konsepsi-konsepsi seorang individu atau kelompok tentang menejemen.

Filsafat Manajemen sendiri terdiri dari sikap, keyakinan, dan konsepsi atau kelompok tentang manajemen.

B. Struktur Dasar Pemikiran
1. Munculnya Manajemen

Lahirnya konsep manajemen ditengah gejolak masyarakat sebagai konsekuensi akibat tidak seimbangnya pengembangan teknis dengan kemampuan sosial. Meskipun pada kenyataannya, perkembangan ilmu manajemen sangat terlambat jauh dibandingkan peradaban manusia di muka bumi ini yang dimulai sejak keberadaan Adam dan Hawa. Barulah lebih kuran pada abad ke-20 kebangkitan para teoritis maupun para praktisi sudah mulai tampak.
Tahun lahirnya teori manajemen modern adalah 1911. Pada tahun ini seorang pionir manajemen bernama Fredick Winslow Taylor menerbitkan sebuah buku dengan judul “Principles of Scientific Management”, buku ini menggambarkan teori manajemen ilmiah, penggunaan metode ilmiah untuk merumuskan “satu-satunya cara terbaik” untuk menyelesaikan pekerjaan.

Berikut ini adalah diagram mengenai Latar Sejarah Manajemen
Penjelasan mengenai poin- poin yang melatar belakangi sejarah Manajemen :

a.  Contoh awal manajemen

Manajemen telah ada dari ribuan tahun lalu. Pada saat itu manajemen adalah usaha-usaha terorganisasi yang diarahkan oleh orang-orang yang bertanggung jawab atas perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian untuk mencapai suatu hasil akhir.
Piramida dan tembok cina merupakan bukti kongkrit akan manajemen itu,  yang dalam bentuk nyata. Proyek-proyek yang ukurannya luar biasa besar yang menggunakkan puluhan ribu manusia, telah dilaksanakan jauh sebelum jaman modern (Proses manajemen yang dilakukan oleh seorang manajer yang memasitkan pembagian tugas dengan efektif)
Praktek manajemen lainnya selama tahun 1400-an di kota Venesia, Italia, pusat perekonomian dan perdagangan yang penting(Kegiatan yang dilakukan lazim seperti yang dilakukan oleh organisasi saat ini).
Contoh-contoh dari masa lalu itu memperlihatkan bahwa organisasi telah ada selama ribuan tahun. Akan tetapi, dua peristiwa sebelum abad ke-20 memainkan peran yang sangat penting dalam memajukan kajian manajemen

b. Adam Smith

Pada tahun 1776, Adam Smith menerbitkan sebuah doktrin ekonomi kasik, “The Wealth of Nations”, dimana ia mengemukakan keunggulan ekonomis yang akan diperoleh organisasi dan masryarakat dari pembagian kerja (division of labor), perincian pekerjaan kedalam tugas-tugas spesifik yang berulang. Contoh yang dia ungkapkan dalam bukunya adalah pembagian kerja di pabrik peniti yang pada akhirnya meningkatkan produktivitas dengan keterampilan dan kecekatan tiap-tiap pekerja,dan menghemat waktu yang lazimnya hilang dalam pergantian tugas-tugas, dan dengan menciptakan sejumlah mesin dan penemuan yang menghemat tenaga kerja.
Poin penting yang ditekankan oleh Adam smith melalui bukunya adalah spesialiasi pekerjaan.

c. Revolusi Industri

Revolusi Industri adalah dimulainya era tenaga mesin, produksi massal, dan transportasi yang efesien. Revolusi industri diawali pada abad ke-18 di Inggris itu melintasi Atlantik menuju Amerika pada akhir Perang Saudara.
Tenaga manusia digantikan dengan mesin hal ini mengakibatkan dibutuhkannya kemampuan manajerial yang dapat mendapat kebutuhan sektor produksi pabrik-pabrik dan pemanfaatan sumber daya dengan baik.
Teori tentang manajeman belum ada sampai awal tahun 1900-an dimana langkah besar untuk menysun teori semacam itu diambil.
Melalui sejarah yang ada kita dapat menyimpulkan bahwa manajemen tumbuh berdasarkan perkembangan masyarakat itu sendiri dengan kata lain manajemen bersifat progresife atau selalu berubah atau menyesuaikan bahkan berkembang sesuai dengan perkembangan lingkungan disekitarnya.

   
2. Perlunya Filsafat Manajemen

Mengapa flisafat manajemen sangat diperlukan di hari-hari ini. Itu semua karena sebuah filsafat manajemen dapat dianggap sebagai suatu cara pemikiran manajemen.

Filsafat Manajemen terdiri dari
  1. Sikap
  2. Keyakinan
  3. Konsepsi-konsepsi seorang individu atau kelompok tentang menejemen.

Mengapa kita membutuhkan filsafat manajemen?
  1. Seseorang pun tak dapat melakukan manajemen tanpa suatu filsafat manajemen baik terimplikasi maupun yang bersifat implisit.
  2. Apabila kita mengabaikan filsafat manajemen, maka berarti bahwa kita menyangkal pendapat bahwa watak, emosi serta nilai-nilai mempengaruhi ide-ide seorang manajer dan bahasa proses mental dan psikologis seorang mempengaruhi kelakuan menejerial.

Jadi kita dapat simpulkan bahwa filsafat manajemen dibutuhkan dari hari kehari dan kan selalu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan lebih dari itu filsafat sangat dibutuhkan oleh seorang manajer sebagai sikap, keyakinan serta konsepsi yang akan mempengaruhi kelakuan manejerial dirinya sendiri.

B.         Ilmu Manajemen Dasar Dan Teori
Filsafat manajemen bisnis, menurut Falk Hecker, adalah puncak perkembangan dari ilmu manajemen yang telah terjadi sejak 1960-an lalu di Eropa dan Amerika Serikat. Bagan dari Hecker in kiranya bisa membantu
 Perkembangan Ilmu Manajemen
Era
Spesialisasi di dalam fungsi manajerial
1960-an
Manajemen pemasaran
1970-an
Manajemen Stratejik
1980-an
Manajemen Proses dan Pembelajaran Organisasi
1990-an
Manajemen Nilai
2000-an
Manajemen dan Tanggung Jawab Sosial
2010-an
Filsafat Manajemen Bisnis
Dewasa ini.

Dalam perkembangannya teori manajemen mengalami banyak perubahan akibat banyak faktor. Salah satu faktor penyebabnya adalah oleh karena berbagai pakar manajemen yang memunculkan berbagai teori-teori mengenai manajemen itu sendiri.
Dibawah ini merupakan “Mazhab” atau aliran teori manajemen yang tergolong didalam 6 kelompok menurut seorang guru besar bernama Harold Koontz.

1. Aliran Proses Manajemen
Aliran ini menganggap manajemen sebagai suatu proses yang membuat orang yang mengerjakan hal dengan cara kerja yang tersusun dan teratur. Aliran ini menganaliasa proses itu, memnentukan rangka kerjanya sebagai suatu konsep dan mengidentifikasi prinsip-prinsip dalam proses itu.
Aliran ini dipelopori oleh Fayol. Penelaahan teori manajemennya didasarkan pada beberapa keyakinan pokok seperti:
  1. Manajemen adalah suatu proses yang secara intelektual dapat dibagi-bagi dengan jalan menganalisa fungsi-fungsi manajer.
  2. Pengalaman yang lama dalam berbagai bidang usaha dan keadaannya dapat mendistilasi beberapa dalil fundamentil atau prinsip-prinsip yang dapat menjelaskan manajemen dan dapat memberi pengertian dan perbaikan dalam memimpin usaha.
  3. Keyakinan-keyakinan di atas ini dapat menjadi titik pusat untuk suatu research yang dapat menentukan kebenarannya dan memperbaiki prakteknya.
  4. Keyakinan-keyakinan itu dapat menjadi unsur untuk suatu teori manajemen.
  5. Memimpin adalah suatu seni, tapi seperti dalam ilmukedokteran dan ilmu teknin, ia dapat diperbaiki juka dasarnya adalah prinsip-prinsip yang sehat.
  6. Prinsip-prinsip dalam manajemen seperti juga dalam ilmu fisika dan ilmu hayat, adalah benar meskipun dalam suatu situasi, tertentu ada kekecualian
  7. Walaupun sudah tentu ada banyak faktor yang mempengaruhi lingkungan manajer, namun teori manajemen tidak perlu meliputi semua pengetahuan untuk dapat dijadikan dasar ilmiah atau Teoritis bagi praktek manajemen.

Jadi pencapaian pokok dari aliran ini adalah melihat pada fungsi-fungsi manajer seperti planning, organizing, staffing, directing, and controlling, dan menarik dari padanya prinsip-prinsip fundamental tertentu, yang dapat mengartikan praktek manajemen yang begitu rumit.

2. Aliran Empiris
Aliran ini melihat manajemen sebagai ilmu pengalaman yang dilihat sebagai alat untuk diteruskan pada kaum pratiktisi. Misalnya aliran ini melihat manajemen sebagai studi dan analisa dari pada masalah-masalah khas (contoh : Ernest Dale dalam bukunya The Great Organizers). Aliran empiris ini bertolak pada premisse, bahwa di dalam menganalisa pengalaman-pengalamandari kaum manajer atau kesalahan-kesalahan yang dibuatnya kita dapat belajar bagaimana menggunakan teknik manajer yang paling efektif

3. Aliran tingkah laku manusia (Human Behavior School)

Berdasar pada dalil bahwa karena manajing berarti getting things done with and through people, maka pelajaran manajemen harus berpusat pada hubungan antar orang. Aliran ini kadang-kadang disebut penelaahan human relations, hubungan antar manusia, leadership approach, penelaahan kepemimpinan atau behavior science, approach “ilmu tingkah laku”. Ia mengembangkan teori-teori yang baru dan yang ada, metode dan teknik ilmu pengetahuan sosial dalam mempelajari peristiwa-peristiwa antara perorangan dan di dalam perorangan sampai kepada hubungan atara kebudayaan.
Maka yang menjadi perhatian penting dari teori ini adalah bagian psikologi, ilmu jiwa perseorangan maupun ilmu jiwa sosial.

4. Aliran Sistem Sosial

Aliran ini erat berhubungan dengan aliran Human Behavior. Ia melihat manajemen sebagai suatu sistem sosial, yakni sebagai sistem inter-relasi kultural. Kadang-kadang ia terbatas kepada organisasi-organisasi formil, (contoh: L.C. March H.A Simon dalam karya mereka “Organization”) dan organisasi adalah sinonim dengan perusahaan.
Dalam hal lain-lain sistem ini lebih luas daripada organisasi formal saja dan meliputi setiap macam sistem dimana ada hubungan antar manusia.
Sifat aliran ini adalah sosiologis karena menganalisa dan mengidentifikasi hubungan kultural  dari berbagai golongan dan kelompok sosial dan mencoba melihatnya sebagai suatu sistem yang berintegrasi.

5. Aliran Teori Keputusan (Decision Theory School)

Makin banyak sarjana dewasa ini menggunakkan teori ini. Pusat perhatian dari aliran teori keputusan adalah pengambilan keputusan, yakni memilih suatu jalan tindakan atau suatu gagasan dari berbagai alternatif yang mungkin (Ducan Luce/Raiffa : Games and Decission; Miller and Starr: Executive Decission and Operations Research)
Pengikut aliran ini mempelajarinya sehingga perspektif mereka tentang operasi perusahaan serta lingkungannya dari lobang kunci pintu yang kecil, dengan akibat, bahwa mereka condong untuk memberi pandangan yang terlalu luar dari pada perusahaan sebagai suatu sistem sosial, pada hal mereka sebenarnya hanya memusatkan perhatian kepada keputusan semata.

6.  Aliran Matematis

Dengan aliran ini saya maksudkan ahli-ahli teori yang melihat manajemen sebagai suatu sistem matematika, lengkap dengan model dan prosesnya. Sebagai contoh antara lain orang-orang yang menganalisa operations research.
Aliran matematis percaya bahwa manajemen dan organisasi, perencanaan dan pengambilan keputusan adalah suatu proses yang logis yang dapat dinyatakan dengan istilah dan simbol matematika. (Miller and Starr, op cit., J. MacCloskey and N. Trefethen: Operations Research for Management, dan lain-lain).

Jadi ada berbagai macam aliran mengenai teori manajemen. Masing-masing memiliki perhatian atau fokus-fokus berbeda serta alat-alat atau metode yang berbeda, tetapi pada hakekatnya semua aliran itu memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk menyelesaikan permasalahan atau mencapai suatu konsensus (kesepakatan bersama) yang terkandung didalam tujuan bersama.
D.        Dimensi Filosofis Manajemen
Menurut Drucker manajemen memang meliputi suatu area disiplin ilmiah dan praktek yang luas. Akan tetapi cara berpikir dan praktek manajemen memiliki beberapa prinsip esensial yang bersifat filosofis. (Drucker, 2001, 10) Pertama,manajemen adalah soal manusia. Fungsi utama manajemen adalah memungkinkan terjadinya kerja sama, yakni untuk membuat kekuatan orang-orang yang berbeda menjadi relevan, dan kelemahan mereka menjadi tidak relevan. Ini adalah alasan dari keberadaan organisasi, apapun bentuknya.
Dalam hal ini praktek manajemen sangatlah penting. Misalnya ada orang yang memiliki kemampuan arsitektur yang hebat. Akan tetapi ia tidak mampu melakukan penghitungan uang secara cermat. Ia lemah dalam soal keuangan. Di dalam organisasi kelebihan orang itu, yakni dalam hal menciptakan bagan arsitektur yang akurat, dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mendatangkan keuntungan. Sementara kelemahannya yakni ketidakmampuannya menghitung uang secara cermat, bisa menjadi tidak relevan, karena organisasi tersebut telah mempekerjakan orang yang bisa menghitung uang secara cermat. Dalam hal ini kelemahan si arsitek menjadi tidak relevan. Sementara kelebihannya menjadi sangat berguna.
Dewasa ini semua orang praktis bekerja dalam suatu organisasi yang memiliki pola manajemen tertentu, baik itu besar maupun kecil. “Kemampuan kita untuk berkontribusi di dalam masyarakat”, demikian Drucker, “juga sangat tergantung dari sejauh mana kemampuan, dedikasi, dan usaha kita dipergunakan oleh organisasi tempat kita bekerja.” (Drucker, 2001, 11) Seorang ahli biokimia tidak akan bekerja secara maksimal, jika ia bekerja sebagai penjual roti. Ia akan bekerja secara maksimal pada tempat, di mana kemampuannya sungguh dihargai dan dapat digunakan sebaik mungkin, seperti di perusahaan obat, atau di universitas misalnya. Di perusahaan obat atau universitas, si ahli biokimia bisa memberikan kontribusi yang signifikan bagi masyarakat sesuai dengan potensi yang ia miliki.
Kedua, karena manajemen terkait dengan integrasi dari beragam orang untuk mencapai tujuan yang sama, maka praktek tersebut berakar kuat di dalam kultur. Praktek manajemen di manapun tempat dilakukannya, pada hakekatnya, adalah sama. Akan tetapi pola penerapannyalah yang berbeda. Menurut Drucker salah satu tantangan terbesar bagi para praktisi manajemen sekarang ini adalah menemukan pola manajerial yang cocok dengan kultur tempat mereka hidup dan berkembang. Pola itulah yang bisa dijadikan tititk tolak untuk melakukan praktek manajemen secara tepat. (Drucker, 2001) Salah satu kunci sukses Jepang meraih kemajuan pesat di bidang manajerial adalah kemampuan mereka menemukan pola praktek manajemen yang sesuai dengan kultur yang mereka miliki. Pola manajemen berbasis kultur inilah yang mendorong mereka mengembangkan berbagai bidang kehidupan, baik ekonomi, politiks, sosial, dan budaya.
Ketiga, setiap organisasi apapun bentuknya selalu membutuhkan komitmen tertentu pada tujuan bersama (common goal), dan diikat oleh nilai-nilai bersama (common values). “Sebuah perusahaan”, demikian Drucker, “haruslah memiliki tujuan yang jelas, sederhana, dan menyatukan.” (Drucker, 2001, 12) Tanpa komitmen kepada tujuan tersebut, tidak ada organisasi. Yang ada adalah gerombolan (mob). Tujuan bersama tersebut juga haruslah jelas, bersifat publik, dan secara konsisten diingatkan serta dipastikan kembali. Tugas utama seorang manajer adalah untuk memikirkan secara mendalam, merumuskan, dan mewujudkan tujuan serta nilai-nilai bersama tersebut.
Keempat, Drucker lebih jauh menjelaskan bahwa praktisi manajemen haruslah mampu membawa organisasi untuk berkembang dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada. Ia harus mampu membaca situasi, dan memanfaatkan semua peluang yang mungkin diraih. Dalam arti ini setiap organisasi adalah sebuah tempat, di mana aktivitas belajar dan mengajar terjadi. Pelatihan dan pengembangan haruslah dilakukan terus menerus di semua jenjang organisasi. (Drucker, 2001)
Kelima, setiap organisasi selalu terdiri dari beragam orang dengan beragam pengetahuan dan ketrampilan. Mereka melakukan pekerjaan yang berbeda-beda, sesuai dengan kemampuannya. Semua aktivitas tersebut haruslah dilakukan atas dasar komunikasi dan tanggung jawab individu yang kokoh. Dalam hal ini semua anggota organisasi haruslah sungguh memahami tujuan dari aktivitas yang mereka lakukan. Tujuan tersebut haruslah diresapi tidak hanya oleh pimpinan organisasi, tetapi oleh seluruh anggotanya. Setiap anggota harus memahami dan meresapi tujuan organisasi ini. Setiap anggota juga harus memikirkan apa kaitan aktivitas mereka dengan aktivitas anggota lainnya, dan memastikan bahwa anggota lain juga melakukan hal yang sama, yakni mempertimbangkan kepentingan anggota lainnya. Dengan demikian ontologi dari praktek manajemen adalah komunikasi dan tanggung jawab individual yang saling terkait satu sama lain tanpa bisa terlepaskan. (Drucker, 2001, 12)
Keenam, bagaimana menilai kemajuan suatu organisasi? Kriteria apa yang dapat kita gunakan untuk melakukan itu? Memang produktivitas, luasnya pasar, status finansial, dan pengembangan sumber daya manusia sangatlah penting bagi keberlangsungan suatu organisasi. Akan tetapi menurut Drucker, sama seperti penilaian atas kesehatan dan perkembangan manusia tidak bisa hanya dibuat dengan satu kriteria, begitu pula penilaian atas kinerja organisasi tidak bisa dibuat hanya dengan satu kriteria. Kriteria yang ada haruslahberagam dan terus berkembang sesuai dengan perubahan situasi. (Drucker, 2001)
Dan ketujuh, daya guna dan hasil suatu organisasi terletak di luar organisasi itu sendiri. “Hasil dari praktek bisnis”, demikian Drucker, “adalah konsumen yang puas.” (Drucker, 2001, 12) Misalnya daya guna dari rumah sakit adalah pasien yang telah sembuh. Daya guna dari sekolah adalah murid yang telah mempelajari sesuatu, dan menggunakannya untuk bekerja sepuluh tahun kemudian. Itu semua adalah hasil dan daya guna dari suatu organisasi. Semua itu bisa ditemukan di luar organisasi. Di dalam organisasi yang ada hanyalahbiaya dan pengeluaran. Inilah prinsip dasar dan alasan keberadaan dari sebuah manajemen organisasi.

Manajemen yang Filosofis
Praktek manajemen berurusan dengan tindakan dan aplikasi. Ujian terhadap berhasil tidaknya praktek manajemen adalah hasilnya. Akan tetapi hasil itu tidak melulu terkait dengan uang (economic performance), tetapi juga dengan manusia, nilai-nilainya, dan perkembangannya. Inilah yang membuat manajemen terkait erat dengan kemanusiaan. Bahkan bisa juga dibilang, dimensi filosofis terdalam dari manajemen adalah sisi kemanusiaannya. Manajemen terkait erat juga dengan struktur sosial dari komunitas, di mana praktek manajemen tersebut dilaksanakan. Berbicara melalui pengalaman bertahun-tahun bekerja sama dengan para praktisi manajemen, Drucker berpendapat, bahwa manajemen sangatlah terkait dengan moralitas. Moralitas yang juga selalu terkait dengan hakekat dari manusia itu sendiri, sisi baik maupun sisi buruknya. (Drucker, 2001, 13)
Drucker bahkan menyebut manajemen sebagai bagian dari liberal art, atau seni liberal. Disebut liberal karena manajemen terkait dengan pengetahuan, baik tentang diri maupun tentang dunia, kebijaksanaan, dan kepemimpinan. Disebut sebagai seni karena manajemen terkait erat dengan tindakan dan penerapan praktis.
“Setiap manajer”, demikian tulis Drucker, “mengambil semua pengetahuan dan inspirasi dari ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu-ilmu sosial, seperti psikologi, filsafat, ekonomi, sejarah, dan etika, dan juga dari ilmu-ilmu alam. Akan tetapi, para manajer membuat semua pengetahuan ini menjadi fokus dan menghasilkan hasil yang efektif, seperti menyembuhkan orang sakit, mengajar siswa, membangun jembatan,…” (Drucker, 2001)
Dengan alasan-alasan yang telah dikemukanan di atas, manajemen adalah suatu praktek yang berfokus pada kemanusiaan. Tujuan utama manajemen adalah supaya kemanusiaan diakui dan dijadikan prinsip utama. Tanpa aspek kemanusiaan manajemen hanyalah alat untuk membenarkan penindasan, atau selubung yang menutupi ketidakadilan.

E.    Filsafat Dalam Proses Manajemen

Filsafat adalah petunjuk utama yang menggarisbawahi semua tindakan dari seorang manejer
Filsafat manajemen adalah bagian yang terpenting dari pengetahuan dan kepercayaan yang memberikan dasar yang luas untuk menetapkan pemecahan permasalah manajerial. Filsafat manajemen memberikan dasar bagi pekerjaan seorang manajer. Seorang manajer memerlukan kepercayaan dan nilai yang pokok untuk memberi petunjuk sesuai dan dapat dipercaya guna menyelesaikan pekerjaan. Filsafat manajemen juga memberikan desain sehingga seorang manajer dapat mulai berpikir. Filsafat manajemen amat berguna karena dapat digunakkan untuk memperoleh bantuan dan pengikut. Filsafat manajemen memberikan pemikiran dan tindakan yang menguntungkan dalam majamen dan membantu kepada sifatnya yang dinamis dan memberi tantangan.
Dalam filsafat manajemen, terkandung dasar pandangan hidup yang mencerminkan keberadaan, identitas, dan implikasinya guna mewujudkan efisiensi  dan efektivitas dalam pekerjaan manajemen. Untuk  merealisasikan tujuan diperlukan beberapa faktor penunjang sehingga merupakan kombinasi yang terpadu, baik menyangkut individu maupun kepentingan umum. Hal ini dimaksudkan adanya keseimbangan di diantara faktor-faktor yang diperlukan dalam mencapai suatu kekuatan untuk mengejar hasil yang maksimum.
Menurut Davis dan Filley dalam Ukas (1978) terdapat faktor-faktor dasar dalam filsafat manajemen yang diperlukan dan memiliki hubungan saling ketergantungan satu sama lain dalam mencapai tujuan. Faktor-faktor dasar tersebut meliputi hal-hal berikut:


a.       Kepentingan umum
Hal ini dimaksudkan bahwa dalam penyelenggaraan suatu organisasi harus terlihat adanya cerminan deskripsi berbagai kepentingan, baik kepentingan pemilik, manajer, para bawahan, maupun kepentingan masyarakat lingkungannya.
  1. Tujuan usaha
Tujuan usaha adalah perwujudan aktivitas yang spesifik dari organisasi, baik organisasi yang bertujuan mencari laba maupun organisasi yang tidak bertujuan mencari laba. Tujuan usaha pada umumnya dapat dikategorikan dalam tiga bentuk, yaitu tujuan  utama, tujuan kedua, dan tujuan tambahan.
  1. Pimpinan pelaksana
Pimpinan pelaksana adalah individu yang diberikan kepercayaan untuk memimpin suatu usaha dengan menggunakkan otoritas yang telah diberikan kepadanya.
  1. Kebijakan
Kebijakan adalah pernyataan atau ketentuan umum yang menuntut atau menyalurkan pemikitan menjadi pengambil keputusan oleh bawahan, serta memberikan arah ke mana organisasi tersebut akan dikemudikan.
  1. Fungsi
Fungsi adalah aktivitas yang berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai setiap organisasi sebagaimana halnya individu pasti memiliki tujuan yang ingin dicapai
  1. Faktor dasar
Faktor dasar meliputi faktor-faktor produksi asli atau turunan, baik berupa alam, tenaga, modal, serta pendukungnya yang merupakan elemen yang harus ada dalam penyelenggaraan organisasu.
  1. Struktur organisasi
Struktur organisasi adalah saluran yang menunjukkan hubungan kerja antara menajer dan bawahan dalam melaksanakan pekerjaan yang disertai dengan otoritas dan tanggung jawab serta kesanggupan untuk tanggung gugat/mempertanggungjawabkan (accountability).
  1. Prosedur
Prosedur adalah tahapan tindakan yang harus ditempuh untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu
  1. Moral kerja
Moral kerja adalah kondisi mental dari individu atau kelompok yang memnentukan sikap bawahan dalam menerima pekerjaan dalam mengoperasikannya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tujuan akhir. Untuk memperoleh efektivitas dari deskripsi filsafat maupun manajemen yang dapat memberikan petunjuk pemikiran bagi suatu aktivitas organisasi dalam mencapai tujuan tertentunya, faktor-faktor diatas dapat digunakan sebagai daftar pengecek terhadap analisis aktivitas yang menjadi norma tindakan dan aktivitas manajemen.

Kesembilan faktor diatas sangat berperan penting dalam mendorong pengrealisasian tujuan. Sembilan faktor diatas merupakan kombinasi yang terpadu, baik menyangkut individu maupun kepentingan umum. Dengan adanya keseimbangan di diantara faktor-faktor yang diperlukan kita dapat memperoleh suatu kekuatan untuk mengejar hasil yang maksimum. Pada akhirnya kita harus mengingat bahwa Filsafat Manajemen memberikan dasar bagi pekerjaan seorang manajer.
Kita tahu bahwa proses manajemen ialah :
  1. Perencanaan (Planning)
Menetapkan tujuan dan langkah/tindakan yang pasti
  1. Pengorganisasian (Organizing)
Alokasi seluruh sumber daya serta batasan otoritas dan tanggung jawab
  1. Pengarahan (Directing)
Memastikan agar sumber daya dijalankan melalui perintah dan saran
  1. Pemotivasian (Motivating)
Menciptakan suasana yang kondusif dan menggairahkan
  1. Pengendalian (Controlling)
Mengevaluasi seluruh system organisasi dari awal hingga akhir

Pada akhirnya kita dapat menyimpulkan bahwa segenap proses manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pemotivasian, dan pengendalian tak dapat dipisahkan dari 9 faktor diatas sebagai filsafat yang memiliki kombinasi terpadu yang saling tergantung sama lain sebagai suatu kesatuan yang mendorong pada kesinergian kerja sama antara faktor-faktor didalam proses manajemen sehingga membuahkan hasil yang efektif dan maksimal dalam pencapaian target atau tujuan yang telah ditentukan sebagai suatu konsensus organisasi atau lembaga  bahkan pribadi-pribadi yang terlibat dalam proses planning.


Daftar Pustaka

“Epistemologi”. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka, Jakarta, 1997
 “Estetika”. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka, Jakarta, 1997
 “Filsafat”. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka, Jakarta, 1997
 “Logika”. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka, Jakarta, 1997
 “Metafisika”. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka, Jakarta, 1997
Manullang, M. Dasar-Dasar Manajemen. Ghalia Indonesia, Jakarta, 1985
Panglaykim, J dan Hazil Tanzil. Manajemen Suatu Pengantar. Ghalia Indonesia, Jakarta, 1981
Robbins, Stephen P dan Mary Coulter. Manajemen. Indeks, Jakarta, 2007
Siswanto, H.B. Pengantar Manajemen. Bumi Aksara, Bandung, 2005
Winardi. Asas-Asas Manajemen. Alumni, Bandung, 1979
Hecker, Falk, Management-Philosophie: Strategien fur dieUnternehmensführung, Grundregeln fur ein erfolgreiches Management, Berlin, 2012
Peter Drucker, The Essential Drucker, HarperCollins Publisher, 2001, hal. 3- 56.





 




Gunung Soputan di Minahasa meletus

https://youtu.be/ffrfkWmAyPU