CRITICAL BOOK REVIEW

CRITICAL BOOK REVIEW



Judul Buku   : Filsafat Ilmu
Pengarang    : Dr. Amsal Bakhtiar, M. A.
Tahun            : 2005
Penerbit         : PT RajaGrafindo Persada
Tebal Buku   : 240 halaman, 21 cm.
ISBN 979-421-993-2

Buku ini berjudul Filsafat Ilmu yang ditulis oleh DR. Amsal Bakhtiar, MA (penulis) dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Jakarta. Tujuan penulisan buku ini adalah untuk mendorong dan membantu civitas akademika dalam proses perkuliahan tentang Filsafat Ilmu. Selain itu buku ini juga berguna bagi kaum awam untuk menyelami dan memperluas wawasan tentang hakikat ilmu secara filsafat.
Pada awalnya pandangan pemikiran manusia sangat dipengaruhi oleh paham mitosentris yaitu bahwa semua kejadian dialam raya ini dipengaruhi oleh para dewa. Thales (624-546 SM), sebagai bapak filsafat disusul kemudian oleh Phytagoras (572-497 SM), Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-332 SM) merupakan filosof-filosof pertama yang mengubah pola pikir manusia yaitu dari pola pikir mitosentris ke pola pikir logosentris. Aristoteles bahkan telah memperkenalkan “Allah” sebagai penggerak Pertama atau Aktus Murni sebagai sumber dari segala sumber penggerak
Bagian pertama buku ini membahas tentang Ruang Lingkup Filsafat Ilmu. Filsafat dan Ilmu adalah dua kata yang terpisah tetapi saling terkait. Filsafat sebagai proses berfikir yang sistematis dan radikal mempunyai obyek material dan obyek formal. Obyek materinya adalah segala yang ada baik yang tampak (dunia empirik) maupun yang tidak tampak (alam metafisik). Sementara Ilmu juga memiliki dua obyek yaitu obyek material dan obyek formal. Obyek materialnya adalah alam nyata misalnya tubuh manusia untuk ilmu kedokteran, planet untuk ilmu astronomi dan lain sebagainya. Sedangkan obyek formalnya adalah metoda untuk memahami obyek material misalnya pendekatan induktif dan deduktif.
Ada filosof yang menyatakan bahwa ilmu semakin jauh dari induknya yaitu filsafat. Penulis memilih sebuah contoh yang tepat yang dikutip dari Will Durant. Oleh Will Durant diibaratkan bahwa, filsafat bagaikan pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infantri. Pasukan infantri ini adalah pengetahuan yang diantaranya adalah ilmu. Filsafat menyediakan tempat berpijak bagi kegiatan ilmu pengetahuan. Setelah itu ilmu berkembang sesuai dengan spesialisasinya masing-masing, sehingga ilmulah yang secara praktis membelah gunung dan merambah hutan dan filsafat kembali ke laut lepas untuk berspekulasi dan melakukan eksplorasi lebih jauh.


Pada bagian ini juga dituliskan bahwa, pada perkembangan berikutnya filsafat bukan hanya dipandang sebagai induk dan sumber ilmu, tetapi sudah menjadi bagian dari ilmu itu sendiri dan bersifat sektoral misalnya filsafat agama, filsafat hukum dan filsafat ilmu.
Selanjutnya diberikan definisi filsafat atau falsafat (bahasa Arab) sebagai cinta kebijaksanaan atau kebenaran (love of wisdom). Juga diberikan pengertian falsafat yang beragam seperti : upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik dan lengkap tentang seluruh realitas, menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan : sumbernya, keabsahannya dan nilainya. Masih ada beberapa pengertian lain yang dituliskan pada halaman 5 sampai 10 diantaranya menurut Al-Farabi (W 950M) bahwa falsafat adalah ilmu tentang yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.
Diberikan juga pengertian kata hikmah (sophos) yang merupakan salah satu makna dari falsafat yaitu mencintai hikmah. Fuad Iframi, Ibnu Mundzir, Al-Jurjani dan Ibn Sina memberikan pengertian hikmah yang secara tekstual berbeda namun secara kontekstual tetap sejalan. Salah satu diantaranya yang didefinisikan oleh Ibn Sina. Menurutnya hikmah adalah mencari kesempurnaan diri manusia dengan menggambarkan segala urusan dan mebenarkan segala hakikat baik yang bersifat toeri maupun praktik menurut kadar kemampuan seseorang.

Salah satu sub-bagian dari bagian ini adalah penjelasan tentang pengertian ilmu, persamaan dan perbedaan antara filsafat dan ilmu. Oleh penulis, dijelaskan bahwa ilmu adalah bagian dari penegtahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang terklasifikasi, tersistem dan terukur serta dapat dibuktikan kebenarannya secra empiris. Sementara pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense yang belum tersusun secara sistematis baik mengenai metafisik maupun fisik. Penulis juga menyimpulkan bahwa filsafat ilmu merupakan kajian secara mendalam tentang dasar-dasar ilmu sehingga filsafat ilmu perlu menjawab persoalan ontologis (obyek telaah), epistemologis (proses, prosedure, mekanisme) dan aksiologis (untuk apa)
Yang terakhir dari bagian ini adalah penjelasan tentang tujuan filsafat ilmu. Dalam buku ini diberikan 5 tujuan filsafat ilmu dan salah satunya adalah memberikan penegasan bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan, antara ilmu dan agama sama sekali tidak ada pertentangannya.
Bagian kedua dari buku ini menjelaskan tentang sejarah perkembangan filsafat yang dibagi dalam tiga periode. Periode pertama merupakan masa awal dari kaum filosof alam yang dimulai dari Thales hingga Parmanides. Dalam periode pertama, para filosof dengan segala pendapat dan pandangan yang berbeda-beda, dianggap tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan tentang manusia dan kebenaran.
Periode berikutnya yang dikenal dengan sebutan periode kaum “sofis” yang dimotori oleh Protagoras yang menyatakan bahwa manusia adalah ukuran kebenaran yang merupakan cikal bakal humanisme. Kaum sofis memberikan ruang gerak pada ilmu untuk berkembang, berspekulasi dan merelatifkan teori ilmu. Mereka beranggapan bahwa ilmu itu terbatas tetapi proses mencari ilmu tak terbatas. Periode berikutnya adalah filosof yang menentang pandangan kaum sofis tentang relativisme kaum sofis.

Periode ini dimotori oleh Sokrates, Plato dan Aristoteles. Socrates terkenal dengan semboyannya “kenalilah dirimu sendiri” Plato murid Socrates yang cerdas mampu “mendamaikan” pandangan Hiraklitos dan Parmanides serta Aristoteles murid Plato yang lebih dikenal dengan analisis silogisme-nya. Aristoteles juga merupakan filosof rasionalisme penutup dari filsafat Yunani yang mampu membagi filsafat dalam dua bagian yaitu yang bersifat teoritis dan praktis.
Pada bagian ini juga dijelaskan sejarah perkembangan ilmu yang dibagi dalam tiga periode pula yaitu : perkembangan ilmu zaman Islam, kemajuan ilmu zaman Renaisans dan modern serta kemajuan ilmu zaman Kontemporer. Perkembangan pengetahuan zaman Islam dimulai sejak peristiwa Fitnah Al-Kubra yang dimotori oleh Abdullah Ibn Umar dan Abdullah Ibn Abbas. Kemajuan pesat mencapai puncaknya dizaman pemerintahan Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah. Salah satu pelopornya adalah Al Mansur yang memerintahkan penerjemahan buku-buku filsafat Yunani kedalam bahasa Arab.
Namun kejayaan Islam ini akhirnya jatuh dan runtuh hingga mencapai titik terendah pada abad ke-18 M. Kemunduruan ini oleh Iqbal disebabkan karena diterimanya faham Yunani yang menyatakan bahwa ilmu itu statis adanya, padahal sesungguhnya ilmu menurut pandangan Islam adalah sesuatu yang dinamis. Menurut Amin Abdullah ilmu itu selalu mengalami pergeseran (shifting paradigm) karena merupakan kegiatan histories yang terkait dengan ruang dan waktu. Zaman renaisans dipelopori oleh salah satunya yaitu N. Copernicus dan. Copernicus terkenal teori Heliosentris-nya.
Revolusi pemikiran ini memicu pertentangan antara pemikir dan gereja Katolik Roma. Akibat revolusi pemikiran ini melahirkan F. Bacon dengan Knowledge is Power-nya, Tycho Brahe dengan gugusan bintang Cassiopeia-nya, Y. Keppler dengan ilmu Asronomi-nya, Galileo dengan ilmu gerak-nya serta Napier dengan logaritma berbasis e-nya dan sedert nama lainnya. Perkembangan zaman modern dipelopori oleh I. Newton dengan teori grafitasi-nya yang selanjutnya berkembang ilmu kimia yang dipelopori oleh J. Black dengan CO2-nya sampai pada masa penemuan elektron oleh J.J Thompson yang menggugurkan teori atom sebagai bahan terkecil yang tidak dapat berubah dan bersifat kekal. Yang terakhir dijelaskan dalam bagian ini adalah kemajuan ilmu zaman kontemporer adalah kemajuan ilmu yang kita alami sekarang ini meliputi semua bidang ilmu dan teknologi. Beberapa diantaranya adalah kajian ilmu sosial
 keagamaan yang ditulis oleh Clifford Geertz tentang santri, priyayi dan abangan. Embryo splitting technique oleh Jerry Hall, Teknologi Informasi dan lain lainnya.
Bagian ketiga buku ini menjelaskan tentang Pengetahuan dan Ukuran Kebenaran. Banyak definisi yang dikemukan dalam buku ini, namun salah satu diantaranya yang menyatakan : pengetahuan adalah kebenaran. Disepakati bahwa ada empat macam pengetahuan yaitu pengetahuan biasa (common sense), pengetahuan ilmu (pengetahuan common sense yang terorganisasi dan sistematis)) dan pengetahuan filsafat serta pengetahuan agama. Secara teori, hakikat pengetahuan dapat diperoleh melalui dua pandangan yaitu pandangan realisme dan idealisme. Pengetahuan menurut pandangan realisme adalah gambaran atau copy dari yang sebenarnya ada dalam alam nyata, artinya pengetahuan adalah benar dan tepat jika sesuai dengan kenyataannya, sementara ajaran idealisme menegaskan bahwa pengetahuan yang benar-benar sesuai dengan kenyataan adalah mustahil, pengetahuan adalah sebuah proses mental/psikologis yang bersifat subyektif.
Pada bagian ini juga dijelaskan bahwa ada tiga sumber pengetahuan yaitu secara empiris yaitu melalui pengalaman. John Locke adalah bapak empirisme dengan teori tabula rasanya. Kelemahan dari teori ini terletak pada kelemahan/keterbatasan indera sebagai pengumpul pengalaman. Teori yang kedua adalah rasionalisme yang lebih mengutamakan pada kemampuan akal sebagai dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal melalui kegiatan menangkap obyek.Intuisi adalah salah satu sumber pengetahuan yang merupakan hasil dari evolusi pemahaman yang tertinggi, demikian yang dikatakan oleh Henry Bergson. Sumber pengetahuan tertinggi adalah wahyu yang merupakan penyampaian pengetahuan langsung dari Allah S.W.T melalui nabi dan rasul-Nya tanpa upaya, tanpa bersusah payah dan tanpa memerlukan waktu untuk mendapatkannya. Pengetahuan para nabi dan rasul terjadi atas kehendak Allah S.W.T dengan mensucikan jiwa mereka dan diterangkan-Nya jiwa mereka untuk memperoleh kebenaran melalui wahyu.
Penjelasan tentang ukuran kebenaran juga merupakan sub-bagian dari bagian ketiga buku ini. Berpikir adalah suatu proses untuk memperoleh kebenaran, namun kebenaran yang didapat adalah kebenaran yang bersifat relatif. Karena sifat relatifnya itulah maka dibuat kategari kebenaran dalam tiga jenis yaitu kebenaran epistemologis, kebenaran ontologis dan kebenaran semantis. Kebenaran epistemologis adalah kebenaran yang berhubungan dengan pengetahuan manusia, kebenaran dalam ontologis adalah kebenaran sesebagai sifat dasar yang melekat pada hakikat segala sesuatu yang ada atau duadakan dan kebenaran semantis adalah kebenaran yang terdapat dan melekat dalam tutur kata dan bahasa.
Dalam bagian ini yang dijelaskan hanya kebenaran epistemologis saja dengan anggapan penulis bahwa kebenaran ontologis dan semantis sudah tercakup didalamnya. Ada empat teori yang menjelaskan tentang kebenaran epistemologi yaitu yang pertama adalah teori korespondensi, yang menyatakan bahwa kebenaran adalah kemanunggalan antara subyek (esensi yang diberikan) dengan obyek (esensi yang melekat pada obyeknya). Kedua adalah teori koherensi yang menyatakan bahwa kebenaran ditegakkan atas hubungan antara putusan yang baru dengan putusan-putusan sebelumnya yang telah diketahui dan diakui kebenarannya terlebih dahulu. Disebut koheren jika memenuhi empat syarat penegrtian yang bersifat psikologis, logis, kepastian dan keyakinan tidak dapat dikoreksi dan kepastian yang dignakan dalam pembicaraan umum. Teori kebenaran yang ketiga adalah pragmatisme kebenaran yang menyatakan bahwa benar tidaknya sesuatu ucapan, dalil semata-mata bergantung pada azas manfaat (bersifat fungsional bagi manusia) dan teori terakhir adalah agama sebagai teori kebenaran. Dalam teori ini sesuatu dinyatakan benar apabila sesuai dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak.
Bagian terakhir dari bab ini adalah klasifikasi dan hierarki ilmu. Al-Farabi, Al-Ghazali, Quthb al-Din dan Muhammada al-Bahi adalah cendekiawan muslim yang banyak menulis tentang klasifikasi ilmu. Al-Ghazali adalah salah satunya yang memberikan pengklasifikasian ilmu yang terdiri dari ilmu syar’iyyah dan aqliyyah. Ilmu Syar’iyyah meliputi al-ushul yaitu ilmu tauhid, kenabian, akhirat dan sumber ilmu (Al-Qur’an, Hadist, ijma dan tardisi sahabat), furu yaitu : ilmu ibadah, muamalah dan akhlak. Sementara ilmu Aqliyyah meliputi matematik, logika, fisika, kedokteran, kimia dan ilmu tentang metafisika.

Bagian keiga dari buku ini membahas tentang Dasar-dasar Ilmu yang dibagi atas tiga bagian yaitu ontologis, epistemologi dan aksiologi yang secara ringkas dapat dituliskan sebagai berikut.
Secara istilah ontologi adalah ilmu yang memperlajari tenatng hakikat yang ada (ultimate reality) baik jasmani/konkret maupun rohani/abstrak. Didalam pemahaman ontologi ditemukan pandangan-pandangan seperti monoisme yang menyatakan bahwa hakikat yang asal itu hanya satu. Cabang dari monoisme ini adalah materialisme yang berpandangan bahwa hakikat yang asal adalah satu yaitu dari materi, sementara cabang lainnya yaitu idealisme yang berpandangan bahwa segala yang asal itu berasal dari ruh.Pandangan lainnya adalah dualisme yang menyatakan bahwa segala sesuatu berasal dari dua unsur yaitu materi dan ruh, jasmani dan rohani. Pandangan lainnya adalah pluralisme yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas yaitu unsur tanah, air, api dan udara. Ada juga faham nihilisme yang nampaknya frustrasi menghadapi relaitas. Realitas harus dinyatakan tunggal dan banyak, terbatas dan takterbatas, dicipta dan takdicipta, semuanya serna kontradiksi, sehingga lebih baik tidak menyatakan apa-apa tentang realistas. Pandangan terakhir yang dikemukan oleh penulis adalah agnostisisme yang merupakan pemahaman yang menolak realitas mutlak yang bersifat trancendental.
Epistemologi atau teori pengetahuan adalah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung-jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Pengetahuan yang diperoleh manusia melalui akal, indera dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalam teori ilmu pengetahuan diantaranya metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatif, dan metode dialektis. Dengan kamajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, Gregory Bateson menilai kemajuan ini cenderung memperbudak manusia akibat dari kesalahan epistemologi barat dan ini harus diluruskan.
Upaya pelurusan kekeliruan epistemologi barat dapat dilakukan dengan memanfaatkan aksiologi. Aksiologi mempunyai banyak definisi, salah satu diantaranya dikemukakan oleh Bramel bahwa aksiologi terdiri dari tiga bagian yaitu moral conduct, esthetic expression dan sosio-political life. Aksiologi harus membatasi kenetralan tanpa batas terhadap ilmu pengetahuan, dalam arti bahwa kenetralan ilmu pngetahuan hanya sebatas metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya haruslah berlandaskan pada nilai-nilai moral .

Bab terakhir dari buku ini membahas tentang sarana ilmiah. Bahasa, matematika dan statistik serta logika merupakan sarana untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan kemampuan kebahasaan akan terbentang luas cakrawala berpikir seseorang sehingga tiada batas dunia baginya. Matematika juga merupakan bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari serangkaian pernyataan yang ingin disampaikan. Lambang-lambang matermatika bersifat artifisial yang mempunyia arti tersendiri. Sementara buku ini mendefenisikan statistika sebagai sekumpulan metoda untuk membuat keputusan yang bijaksana dalam keadaan yang tidak menentu. Sarana ilmiah lainnya adalah logika. Logika adalah sarana untuk berfikir sistematis, valid dan dapat dipertanggung-jawabkan. Untuk mendapatkan sebuah kesimpulan, mungkin membutuhkan pemikiran yang rumit, panjang dan berliku-liku, sehingga diperlukan hukum-hukum pikiran beserta mekanisme yang dapat digunakan secara sadar untuk mengontrol perjalanan pikiran yang sulit dan panjang itu. Buku ini menyebutkan ada tujuh aturan berpikir dengan benar yaitu : mencintai kebenaran, menyadari apa yang dikerjakan, menyadari apa yang dikatakan, dapat membedakan dua hal yang “sama” tetapi tidak “identik”, mencintai definisi yang tepat, menyadari kenapa membuat kesimpulan demikian dan mampu menghindari dan mengindentifikasi kesalahan pemikiran.

Komentar:
A.   Kekurangan Isi Buku
1.    Dalam filsafat dan hikmah, penulis belum memberikan kesimpulan dari makna filsafat dan hikmah menurut penulis. Jadi disitu penulis hanya menuliskan dari para ahli.
2.    Belum secara jelas menjelaskan hubungan antara filsafat dengan hikmah
3.    Dalam pengertian ilmu, penulis kurang sitematis dalam penulisannya, seharusnya dituliskan terlebih dahulu definisi ilmu menurut ahli baru ciri-ciri utama ilmu
4.    Dalam persamaan filsafat dan ilmu, karena keduanya sama-sama mempunyai metode dan sistem mungkin perlu diberi tambahan metode dan sistemnya itu seperti apa supaya lebih jelas
5.    Dalam penyampaian ilmu dan filsafat Yunani ke dunia Islam disebutkan bahwa Plato dan Aristoteles telah memberikan pengaruh besar pada mazhab-mazhab Islam, khususnya mazhab eklektisisme. Mazhab eklektisisme tidak dijelaskan apa itu artinya sehingga pembaca akan kebingungan ataupun akan bertanya-tanya apa itu mazhab eklektisisme.
6.    Masa keruntuhan tradisi keilmuan dalam islam disebutkan bahwa salah satu faktor kemunduran tradisi intelektual dan keilmuan di dunia islam adalah kesulitan-kesulitan ijtihad dan mistisisme asketik. Namun disitu tidak dijelaskan lebih lanjut apa maksud dan penjelasannya sehingga pembaca kurang paham akan maksudnya.
7.    Masih banyak terdapat kekeliruan dalam penulisannya. Penulis mendapatkan banyak kesalahan dalam penulisan kaidah bahasa Indonesia Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Misalnya penulis menemukan kesalahan dalam pmulisan istilah-istilah asing. Seharusnya ketika mengutip istilah-istilah asing dalam menyusun karya ilmiah, seharusnya dimiringkan. Tetapi kenyataan yang ditemukan penulis dalam buku ini tidak dimiringkan sebagian penulisan istilah asing. Hal ini dapat dilihat pada (hlm.200). Istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut.
a.    theory of error (salah)  seharusnya di tulis theory of error (benar)
b.    continuous distribution (salah) seharusnya di tulis continuous distribution (benar)
c.    least squarers  (salah)  seharusnya di tulis least squarers (benar)
d.    varians dan covarians  (salah)  seharusnya di tulis varians dan covarians
(benar)



B.   Kelebihan Isi Buku
1.    Terkandung penjelasan yang global tentang filsafat dan ilmu, serta hubungannya seperti yang tersebut diatas.
2.    Disajikan secara runtut sehingga dapat mengantar pembaca berpikir secara sistematis
3.    Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh pembaca sehingga mempermudah pembaca dalam memahami maksud isi buku
4.    Bermanfaat membantu para mahasiswa dan dosen dalam perkuliahan. Kemudian, pembaca dari luar kalangan akademis buku tersebut juga sangat berguna terutama untuk menyelami dan memperluas wawasan tentang hakikat dan makna filsafat ilmu secara filosofis. 
5.    Dapat menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi diperguruan tinggi, terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan nonilmiah. Kemudian memahami sejarah  pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan ilmu di berbagai bidang khususnya bidang ilmu bahasa dan sastra Indonesia,  sehingga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis.
6.    Buku “Filsafat Ilmu” yang di tulis oleh Dr.Amsal Bahtiar, M.A. sangat bermanfaat dalam pengembangan dan pembinaan bahasa dan Sastra Indonesia. Menurut Bahtiar (2005: 3) mengatakan bahwa tugas filsafat di antaranya adalah menyatukan visi keilmuan itu sendiri agar tidak terjadi bentrokan antara berbagai kepentingan. Dalam konteks inilah kemudian ilmu bahasa sebagai salah satu  kajian filsafat ilmu  sangat relevan untuk dikaji dan di dalami. 

Filsafat ilmu sangat berperan sangat berperan untuk memberikan penyadaran seseorang dalam berfikir ilmiah. Hal ini sangat penting karena berpikir ilmiah dapat melahirkan penelaahan ilmiah secara baik dalam berkomunikasi. Bahasa sebagai alat komunikasi verbal maupun nonverbal digunakan dalam berpikir ilmiah dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain, baik pikiran yang berlandaskan logika induktif maupun deduktif. Dengan kata lain, kegiatan berpikir ilmiah ini sangat berkaitan erat dengan bahasa. Inilan yang mendasari penulis, mengatakan bahwa filsafat ilmu sangat berperan dalam pengembangan dan pembinanaan bahasa. Karena filsafat mendorong seseorang untuk berpikir kritis, berpikir ilmiah dalam berkomunikasi dalam kehidupan.



DATA BUKU
Judul Buku     : Filsafat Ilmu
Penulis           : Dr. Cecep Sumarna
Penerbit         :   CV. Mulia Press, Bandung
Tahun Terbit   : 2008
Tebal Buku     :  271 halaman





ISI BUKU
MENGAPA FILSAFAT ILMU
Sebelum membahas lebih jauh tentang filsafat ilmu, maka penulisan dalam buku ini diawali dengan pertanyaan mengapa filsafat ilmu ? Tentu saja dari maksud diawali dengan pertanyaan tersebut, bahwa penulis berusaha mengajak pembacanya untuk lebih tertarik guna mengenal dan mendalami filsafat ilmu, serta membenarkan beberapa kekeliruan pandangan terhadap filsafat ilmu, dan menyatakan bahwa filsafat ilmu bukanlah ilmu filsafat.
Pada bab ini diulas pula tentang lahirnya filsafat ilmu, dimana filsafat di satu sisi dapat menjadi pembuka lahirnya ilmu, di sisi lainnya, juga dapat menjadi pembuka lahirnya ilmu, di sisi lainnya juga dapat berfungsi sebagai cara kerja akhir ilmuwan . ”Sombongnya”, filsafat sering disebut sebagai induk ilmu (mother of science) dan sekaligus menjadi pamungkas keilmuan yang dalam beberapa hal tidak dapat diselesaikan oleh ilmu.
Kenapa demikian ? Sebab filsafat dapat merangsang lahirnya sejumlah keinginan dari temuan filosofis melalui berbagai observasi dan eksperimen yang melahirkan berbagai pencabangan ilmu. Realitas juga menunjukkan bahwa hampir tidak ada satu cabang ilmu pun yang lepas dari filsafat atau serendahnya tidak  tidak terkait dengan persoalan filsafat. Bahkan untuk kepentingan perkembangan ilmu itu sendiri, lahir suatu disiplin filsafat yang khusus mengkaji ilmu pengetahuan. Rumusan ilmu dimaksud disebut filsafat pengetahuan, yang berkembang dalam cabang baru yang disebut sebagai filsafat ilmu.
SEJARAH ILMU PENGETAHUAN
Pada bab ini, Dr. Cecep Sumarna, sang penulis buku, menjelaskan tentang sejarah ilmu pengetahuan yang dimulai dari cara berpikir manusia yang berbau mistik. Yunani Kuno memiliki peranan penting dalam melakukan proses perubahan paradigm berpikir manusia dari sesuatu berbau mistik ke dunia ilmu, dunia logika, dunia factual, dunia terukur.  Para filosof  besar Yunani Kuno seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles, mampu membalikkan mitos atau mistik menjadi ilmu. Yunani kuno didukung kuat dan luasnya aspek mitos di kalangan masyarakat. Harus pula diakui, bahwa mitos dapat menjadi perintis filsafat. Melalui mitos, manusia mampu melakukan percobaan untuk mengerti tentang sesuatu secara filosofis-spekulatif,
Mite (kata besar dari mitos) dapat mencari keterangan tentang asal usul alam semesta dan kejadian yang berlangsung di dalamnya. Mite  mampu memberikan jawaban atas sejumlah pertanyaan dasar tentang asal usul alam semesta. Jawaban yang diberikan mite atas pertanyaan dasar tentang asal usul alam semesta ini, secara teoretik kemudian disebut dengan kosmogonis. Ketika sudah menjadi kajian

kosmogonis, tentu tidak lagi murni mistik Tetapi sedikit banyak sudah filosofis sekaligus sedikit banyak ilmiah, dan lahirlah ilmu pengetahuan.
Di samping berbicara tentang sejarah ilmu pengetahuan yang cakupannya di wilayah Yunani Kuno, Cecep Sumarna selaku penulis buku ini, juga memiliki asumsi bahwa dunia Islam sebagai penyelamat ilmu pengetahuan Yunani Kuno.
MENGENAL FILSAFAT
Pada bab ini, penulis mengajak kita untuk lebih mengenal filsafat dengan memahami filsafat itu sendiri. Dijelaskan dalam bab ini bahwa filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia dan philosophos, terstruktur dari kata philos dan Sophia atau philos dan shoposPhilos berarti cinta, dan sophia atau shopos berarti kebijaksanaan, pengetahuan tertinggi, hikmah.
Dalam arti yang agak umum, filsafat dapat digunakan untuk menjawab berbagai pertanyaan yang muncul dalam pikiran manusia tentang berbagai kesulitan yang dihadapinya, serta berusaha untuk menemukan solusi yang tepat. Misalnya ketika kita menanyakan : “Siapa kita? Darimana kita berasal ? Mengapa kita ada di suatu tempat ? Kemana kita akan pergi dan berlalu ? Apa yang dimaksud dengan kebenaran dan kebathilan ? Dan apakah yang dimaksud dengan kebaikan dan kejahatan ?
Namun demikian, dalam bab ini juga diungkapkan bahwa filsafat dapat juga diartikan dalam arti yang khusus. Dalam  arti ini, kata filsafat biasanya bersinonim dengan sistem dari sebuah madzhab tertentu dalam filsafat. Misalnya, filsafat dirangkaikan  dengan salah seorang filosof, seperti filsafat Aristoteles atau filsafat Plato.  Rangkaian kata filsafat dengan nama seorang filosof tertentu mengindikasikan bahwa setiap filosof dengan aktivitas filsafat yang dilakukannya bermaksud membangun suatu bentuk penafsiran yang lengkap dan menyeluruh terhadap segala sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh filosof tertentu itu.
Selanjutnya, penulis menjelaskan juga tentang ciri berpikir filsafat dengan ciri-ciri sebagai berikut : radikal, sistemik, universal dan spekulatif.  Berpikir radikal artinya berpikir sampai ke akar persoalan. Sistemik adalah berpikir logis, yang bergerak selangkah demi selangkah, penuh kesadaran, berurutan dan penuh rasa tanggung jawab. Universal artinya berpikir secara menyeluruh tidak terbatas pada bagian-bagian tertentu, tetapi mencakup keseluruhan aspek, yang konkret dan abstrak atau yang fisik dan metafisik. Terakhir, spekulatif, karena seorang filosof memiliki cara berpikir yang spekulatif, maka seorang filosof terus melakukan ujicoba dan memberikan pertanyaan terhadap kebenaran yang dianutnya.
METAFISIKA
Buku yang berjudul Filsafat Ilmu ini, menjelaskan pula tentang metafisika. Dalam filsafat ilmu, metafisika perlu dibahas, karena memiliki nilai guna sebagai bahan studi atau pemikiran tentang sifat tertinggi atau terdalam (ultimate nature) dari keadaan atau kenyataan yang tampak nyata dan variatif. Melalui pengkajian dan penghayatan terhadap metafisika, manusia akan dituntun pada jalan dan penumbuhan moralitas hidup.
Hubungan antara metafisika dengan filsafat ilmu dapat diibaratkan seperti hubungan dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan meski gampang dibedakan. Filsafat ilmu membincangkan persoalan metafisika lebih karena hampir tidak ada ilmupun yang terlepas dari persoalan metafisika. Bahkan dalam banyak hal, ilmu dan pengkaji ilmu (ilmuwan) yang kering makna metafisika akan berakibat pada keringnya makna ilmu itu sendiri. Tentu ini subjektif, tetapi kelihatannya sangat sulit ditolak.


SUMBER ILMU PENGETAHUAN
            Sumber ilmu pengetahuan yang menjadi kajian di bab ini adalah aspek-aspek yang mendasari lahirnya ilmu. Aspek-aspek tadi, mungkin telah memperlihatkan perkembangan yang ada atau mungkin muncul di tengah kehidupan manusia.
Cecep Sumarna, sang penulis, memberikan penekanan tentang pentingnya mengkaji sumber ilmu pengetahuan didasarkan atas : 1) Adanya perbedaan pandangan di kalangan filosof dan saintis tentang apa yang menjadi sumber ilmu ; dan 2) Perbedaan ini ternyata berkonsekwensi pada perbedaannya paradigma yang dianut masing-masing komunitas masyarakat dalam memandang dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan.
Dilihat dari sejarah, lahirnya sumber ilmu pengetahuan seperti terlihat dalam corak ilmu pengetahuan Barat kontemporer, namun sebenarnya berakar dari tradisi dialektis filosof Yunani pada abad kelima dan keempat sebelum masehi.
Perlu diketahui pula, ada cara lain yang juga dapat disebut sebagai sumber pengetahuan, yaitu intuisi dan wahyu. Kelompok yang menganggap bahwa intuisi dan wahyu dapat menjadi sumber pengetahuan adalah mereka yang masih menjunjung tinggi peranan wujud tertentu di laut dzat atau benda fisik yang tampak dan dapat dibuktikan oleh alat indera manusiawi.
Intuisi dapat juga dianggap dapat menjadi sumber pengetahuan karena melalui intuisi manusia mendapati ilmu pengetahuan secara langsung tidak melalui proses penalaran tertentu. Melalui intuisi, menurut Cecep Sumarna, manusia secara tiba-tiba menemukan jawaban dari permasalahan yang dihadapinya.
PENALARAN : SARANA BERPIKIR ILMIAH

            Pada bab ini, Cecep Sumarna mencoba mengenalkan kepada pembacanya tentang penalaran yang merupakan sarana berpikir ilmiah. Seseorang telah melakukan pentalaran dengan benar, dan karena tidak disebut telah memiliki ciri berpikir nalar, apabila ia memperlihatkan pemikirannya yang logic dan analytic. Logika adalah suatu kegiatan berpikir dengan menggunakan suatu pola tertentu atau menurut logika tertentu, ketidak konsistenan dalam menggunakan alur logika, dapat menyebabkan kekacauan penalaran. Sedangkan analitik adalah kegiatan berpikir yang menyandarkan diri kepada logika ilmiah dengan menggunakan langkah-langkah tertentu dalam bingkai ilmiah tadi. Cara berpikir tertentu baru termasuk ke dalam suatu penalaran yang benar, apabila ia menggunakan penalaran yang logis dan analitik.
Dengan demikian, pada intinya yang diungkapkan oleh Cecep Sumarna pada bab ini adalah bahwa sarana berpikir ilmiah berlandaskan pada logika. Dengan kata lain, logika adalah cara penalaran dalam menarik kesimpulan, untuk memperoleh cara berpikir yang lebih shahih.
Dalam praktisnya, serendahnya terdapat dua cara penarikan kesimpulan melalui cara kerja logika. Dua cara itu adalah : induktif dan deduktif. Logika induktif diartikan sebagai penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum dan rasional. Logika deduktif adalah cara penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum rasional menjadi kasus-kasus yang bersifat khusus sesuai fakta di lapangan. Dalam implementasinya, kedua cara penarikan kesimpulan ini memiliki implikasi yang amat luas, yang secara perlahan-lahan akan terurai melalui berbagai penjelasan di bab berikut buku ini.
METODE BERPIKIR ILMIAH
            Metode berpikir ilmiah adalah prosedur, cara dan teknik memperoleh pengetahuan. Meski tidak semua pengetahuan didapatkan melalui metode atau pendekatan ilmiah, tetapi apa yang disebut dengan ilmu, harus didapatkan melalui pendekatan dan metode ilmiah. Kaidah filsafat ilmu, bahkan disebut bahwa suatu pengetahuan, baru dapat disebut sebagai ilmu, apabila cara perolehannya dilakukan melalui kerangka kerja ilmiah. Salah satu cara kerja ilmiah dimaksud disebut metode ilmiah.
Dengan menggunakan metode berpikir ilmiah, manusia terus menerus mengembangkan pengetahuannya. Dengan metodenya manusia terus memperoleh kenikmatan dan kebahagiaan hidup. Perspektif ini oleh sang penulis buku ini dikatakan hanya akan terwujud sikap ingin tahu manusia dan itu semua dilakukan melalui metode berpikir tertentu yang disebut dengan metode berpikir ilmiah. Manusia memiliki sifat ketergantungan yang luar biasa terhadap pengetahuan. Sifat ingin tahu yang melekat pada diri manusia, telah mendorong manusia untuk mengungkapkan pengetahuan, meski dengan berbagai cara dan pendekatan yang digunakan.
Yang perlu kita ketahui dalam hal ini, bahwa secara historis, ada empat cara manusia memperoleh pengetahuan, yaitu : 1) Berpegang pada suatu yang telah ada (metode keteguhan);   2) Merujuk kepada pendapat ahli (metode otoritas);     3) Berpegang pada intuisi (metode intuisi), dan ;  4) menggunakan metode ilmiah.
MENYUSUN PROPOSAL PENELITIAN
Kegiatan ilmiah, biasanya dilakukan melalui penelitian. Sebuah penelitian biasanya diawali dari penyusunan proposal atau rencana penelitian. Sehingga di dalam buku ini, sang penulis, Cecep Sumarna, mengemukakan tentang beberapa langkah yang harus ditempuh peneliti dalam merumuskan proposal penelitian. Langkah-langkah dimaksud adalah : latar belakang masalah, identifikasi masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, menyusun kerangka teoritis, metode penelitian, menyusun laporan penelitian, dan menyusun kesimpulan. Selain susunan di atas, dalam penelitian juga dilengkapi oleh abstrak, daftar pustaka dan riwayat hidup peneliti.
ETIKA
            Etika adalah salah satu unsure penting yang terdapat dalam teori nilai. Kata teori nilai yang terdiri dari dua suku kata, yakni teori dan nilai itu, tampaknya merupakan terjemahan dari bahasa Yunani, logos (akal dan teori) dan aksios (nilai atau suatu yang berharga).
Para ahli filsafat sering menyebut teori nilai sama dengan aksiologi. Seperti diketahui bahwa aksiologimerupakan bagian dari tiga cabang besar filsafat ilmu, yakni : ontology, epistemology dan aksiologi. Aksiologi sering disebut sebagai ilmu yang melakukan penyelidikan mengenai kodrat, criteria dan status metafisik dari nilai.
Nilai disebut aksiologi, karena cabang filsafat ini menyelidiki hakikat nilai ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Louis O. Kattsoff  menyebutkan beberapa cabang pengetahuan yang terkait dengan masalah nilai, atau setidaknya berkeperluan terhadap nilai. Nilai dimaksud seperti ekonomi, etika, estetika, filsafat agama dan epistemology kebenaran. Bidang –bidang ini menurut Kattsoff, mesti dibingkai dalam kaidah nilai. Sebab betapapun tingginya capaian fisik yang dihasilkan dari basis keilmuan di atas, ia tetap akan kehilangan nilai substantifnya, tanpa nilai yang mengidealisir system bangunannya.
Sehingga di dalam bab ini, Cecep Sumarna sang penulis buku ini, berupaya menonjolkan semangat pada bab ini yang akan menguraikan tentang nilai dalam ilmu. Bagaimana nilai harus diterapkan ketika berhadapan dengan wilayah keilmuan? Apakah nilai dapat disusun dalam rumusan tunggal sehingga diakui bahwa nilai itu mengandung makna universalnya atau tidak ? Lalu bagaiman ilmuwan dan kita semua bersikap ketika fakta menunjukkan bahwa penilaian terhadap nilai itu subjektif? Sebatas mana pula subjektivitas itu ditoleransi? Inilah urgensi terpenting dari kajian bab ini.
ESTETIKA
            Di dalam bab estetika ini, penulis buku mengawali tulisannya dengan suatu ungkapan yang cukup membuat orang penasaran untuk lebih memahami bab ini, yaitu : menarik tidak untuk tertarik, mencintai tidak untuk memiliki, memiliki tidak untuk mencintai, memiliki tidak untuk menikmati, bahkan menikmati tak berarti harus mencintai dan memiliki.
Bab ini juga diawali dengan contoh-contoh penilaian estetika dari kaum adam terhadap kaum hawa yang di dalam penilaian tersebut tidak terlepas dari penilaian yang subjektif. Namun, yang perlu kita perhatikan dalam estetika adalah bahwa estetika merupakan bagian dari tritunggal, yakni teori tentang kebenaran (epistemologi), kebaikan dan keburukan (etika) dan keindahan itu sendiri (estetika). Estetika misalnya berbicara mengenai hakikat keindahan. Selain itu, estetika juga berbicara tentang teori mengenai seni. Seni yang melukiskan bahasa perasaan.
Dengan demikian, estetika berarti suatu teori yang meliputi : 1) Penyelidikan mengenai yang indah;  2) Penyelidikan mengenai prinsip-prinsip yang mendasari seni;  dan 3)  Pengalaman yang bertalian dengan seni, penciptaan seni, penilaian terhadap seni atau perenungan terhadap seni.
BAHASA & NOTASI ILMIAH
            Di lautan yang teduh, setiap orang kemungkinan dapat menjadi nakhoda perjalanan. Kalimat ini menjadi awal tulisan dalam bab ini, yang pada hakekatnya penulis buku ini ingin mengutarakan tentang fungsi bahasa dalam komunikasi. Setiap komunikasi, pasti menggunakan bahasa. Bahasa adalah sarana berpikir. Bahasa berguna untuk menjadi alat komunikasi dalam menyampaikan jalan pikiran dirinya kepada orang lain. Melalui bahasa, manusia tidak mungkin berpikir secara sistematis.
Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Dengan bahasa, manusia mampu melakukan abstraksi sekaligus simbolisasi dari realitas faktual empiris ke dalam dunia ide.
Bahasa dapat mendorong manusia melakukan proses transformasi. Melalui bahasa, manusia dapat melakukan proses berpikir dengan cara menarik realitas factual ke dalam dunia ide, meski objek-objek faktual dimaksud tidak lagi factual-empiris dan telah berada di luar jangkauan dirinya. Melalui bahasa manusia dapat melakukan komunikasi apa saja dari satu subjek kepada objek lain.
Bahasa itu sendiri kadang tertuang dalam bentuk tulisan. Sehingga penulis buku ini, Cecep Sumarna, berupaya memberikan penekanan terhadap tulisan yang memiliki peranan yang cukup kuat dalam mempengaruhi pikiran manusia. Di dalam tulisan ilmiah, mensyaratkan adanya notasi ilmiah. Ia berfungsi untuk menjadi alat ukur penegakkan prinsip kejujuran ilmiah. Prinsip dasarnya, setiap pemikiran tidak pernah berdiri sendiri, sebagai sesuatu yang benar-benar baru.  Setiap pengetahuan selalu dan pasti merupakan tumpukan dan lanjutan dari satu item kepada item lain.
Ada tiga bentuk sistem notasi ilmiah. Ketiga bentuk dimaksud adalah : Pertama, harus teridentifikasi dari siapa penulis melakukan rujukan.  Kedua, media atau alat komunikasi yang dijadikan oleh mereka yang pikirannya disadur. Ketiga, juga harus jelas lembaga yang menerbitkan tulisan mereka yang oleh penulisan pikirannya disadur. Masuk dalam ranah ini, termasuk tahun penerbitan dan halaman berapa mereka menulis.
Dalam bentuknya, notasi ilmiah dibagi ke dalam tiga bentuk. Ketiga bentuk dimaksud adalah : 1) Catatan kaki (foot note);  2) In Note (catatan di dalam tulisan), dan 3) End Note (diletakkan di akhir tulisan).

PENUTUP
Buku yang ditulis oleh Cecep Sumarna ini, pada hakekatnya ingin mengungkapkan tentang pengetahuan, ilmu dan anak turunannya (teknologi) yang selalu menjadi perhatian orang. Wajar saja ini dituangkan dalam tulisan ini, karena hampir setiap dinamika kehidupan manusia akan sangat tergantung pada tiga persoaan di atas. Abad ini, yang disinyalir oleh berbagai ahli sebagai abad informasi, telah menggeser paradigm berpikir masyarakat. Perubahan paradigma dimaksud, salah satunya dipengaruhi kuat oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan teknologi saat ini misalnya, bukan hanya sekedar dijadikan alat, tetapi ia kini telah menjadi komoditi yang dapat diperjual belikan dengan berbagai kepentingan.
Dihadapkan pada kondisi tersebut di atas, maka penulis buku filsafat ilmu ini, yaitu Cecep Sumarna, beliau mampu mencermati dan mengimbangi hal tersebut dengan menampilkan pemikirannya terhadap sesuatu yang sedikit jarang dilakukan dan diperhatikan orang,  dan ini menurut saya cukup urgen untuk diteliti lebih jauh, yaitu pembahasan mengenai hakikat pengetahuan, ilmu dan teknologi itu sendiri khususnya ketika harus berelasi dengan manusia.
Harus diakui bahwa perhatian terhadap hal ini telah melahirkan banyak aliran dalam filsafat dengan segala persamaan dan perbedaannya, dan itu semua melahirkan filsafat ilmu yang dibahas secara terperinci dalam buku ini oleh sang penulis Cecep Sumarna.
Tulisan ini merupakan obsesi Cecep Sumarna untuk memajukan pola pikir bangsa ini serta mengembangkan, menguji dan membuat ilmu dalam satu wadah khusus yaitu filsafat ilmu.
Namun, sebagai cendekiawan muslim, Cecep Sumarna dalam mengembangkan tulisannya tentang filsafat ilmu masih berkiblat kepada filosof-filosof Yunani. Walau demikian, terdapat upaya Cecep Sumarna untuk mengimbangi kelemahannya ini dengan menampilkan beberapa filosof muslim, dan di dalam buku ini juga dikemukakan tentang peranan dunia Islam sebagai penyelamat ilmu pengetahuan Yunani Kuno. Di dalam buku ini juga terdapat semangat Cecep Sumarna untuk melakukan islamisasi filsafat ilmu dan pengetahuan, namun pengembangannya masih terbatas karena di dalam tulisannya masih terungkap pandangan dan pemikiran para filosof Yunani Kuno, seperti Aristoteles, Socrates dan lain-lain.
Walau demikian, perlu diakui, bahwa pemikiran-pemikiran yang diangkat oleh Dr. Cecep Sumarna ini merupakan buah karya anak muda yang produktif untuk membantu khazanah kita untuk memikirkan atau ikut serta berpikir tentang masalah filsafat ilmu yang memegang peranan penting dalam kehidupan manusia sehingga ilmunya dapat memberikan manfaat yang positif bagi kelangsungan hidup umat manusia di muka bumi ini. (aagun/29042009)

DAFTAR PUSTAKA

http://profcecepsumarna.blogspot.co.id/2010/12/mengapa-filsafat-ilmu.html
http://hardinattyandini.blogspot.co.id/2011/04/reviuw-judul-buku-filsafat-ilmu.html

Gunung Soputan di Minahasa meletus

https://youtu.be/ffrfkWmAyPU