CRITICAL BOOK REVIEW
Judul Buku : Filsafat Ilmu
Pengarang : Dr. Amsal Bakhtiar,
M. A.
Tahun : 2005
Penerbit : PT RajaGrafindo
Persada
Tebal Buku : 240 halaman, 21 cm.
ISBN 979-421-993-2
Buku ini berjudul Filsafat
Ilmu yang ditulis oleh DR. Amsal Bakhtiar, MA (penulis) dosen Fakultas
Ushuluddin dan Filsafat UIN Jakarta. Tujuan penulisan buku ini adalah untuk
mendorong dan membantu civitas akademika dalam proses perkuliahan tentang
Filsafat Ilmu. Selain itu buku ini juga berguna bagi kaum awam untuk menyelami
dan memperluas wawasan tentang hakikat ilmu secara filsafat.
Pada awalnya
pandangan pemikiran manusia sangat dipengaruhi oleh paham mitosentris yaitu
bahwa semua kejadian dialam raya ini dipengaruhi oleh para dewa. Thales
(624-546 SM), sebagai bapak filsafat disusul kemudian oleh Phytagoras (572-497
SM), Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-332 SM) merupakan filosof-filosof
pertama yang mengubah pola pikir manusia yaitu dari pola pikir mitosentris ke pola
pikir logosentris. Aristoteles bahkan telah memperkenalkan “Allah” sebagai
penggerak Pertama atau Aktus Murni sebagai sumber dari segala sumber penggerak
Bagian pertama buku
ini membahas tentang Ruang Lingkup Filsafat Ilmu. Filsafat dan Ilmu adalah dua
kata yang terpisah tetapi saling terkait. Filsafat sebagai proses berfikir yang
sistematis dan radikal mempunyai obyek material dan obyek formal. Obyek
materinya adalah segala yang ada baik yang tampak (dunia empirik) maupun yang
tidak tampak (alam metafisik). Sementara Ilmu juga memiliki dua obyek yaitu
obyek material dan obyek formal. Obyek materialnya adalah alam nyata misalnya
tubuh manusia untuk ilmu kedokteran, planet untuk ilmu astronomi dan lain
sebagainya. Sedangkan obyek formalnya adalah metoda untuk memahami obyek
material misalnya pendekatan induktif dan deduktif.
Ada filosof yang
menyatakan bahwa ilmu semakin jauh dari induknya yaitu filsafat. Penulis
memilih sebuah contoh yang tepat yang dikutip dari Will Durant. Oleh Will
Durant diibaratkan bahwa, filsafat bagaikan pasukan marinir yang merebut pantai
untuk pendaratan pasukan infantri. Pasukan infantri ini adalah pengetahuan yang
diantaranya adalah ilmu. Filsafat menyediakan tempat berpijak bagi kegiatan
ilmu pengetahuan. Setelah itu ilmu berkembang sesuai dengan spesialisasinya
masing-masing, sehingga ilmulah yang secara praktis membelah gunung dan
merambah hutan dan filsafat kembali ke laut lepas untuk berspekulasi dan
melakukan eksplorasi lebih jauh.
Pada bagian ini juga
dituliskan bahwa, pada perkembangan berikutnya filsafat bukan hanya dipandang
sebagai induk dan sumber ilmu, tetapi sudah menjadi bagian dari ilmu itu
sendiri dan bersifat sektoral misalnya filsafat agama, filsafat hukum dan
filsafat ilmu.
Selanjutnya diberikan
definisi filsafat atau falsafat (bahasa Arab) sebagai cinta kebijaksanaan atau
kebenaran (love of wisdom). Juga diberikan pengertian falsafat yang beragam
seperti : upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik dan
lengkap tentang seluruh realitas, menentukan batas-batas dan jangkauan
pengetahuan : sumbernya, keabsahannya dan nilainya. Masih ada beberapa
pengertian lain yang dituliskan pada halaman 5 sampai 10 diantaranya menurut
Al-Farabi (W 950M) bahwa falsafat adalah ilmu tentang yang maujud dan bertujuan
menyelidiki hakikat yang sebenarnya.
Diberikan
juga pengertian kata hikmah (sophos) yang merupakan salah satu makna dari
falsafat yaitu mencintai hikmah. Fuad Iframi, Ibnu Mundzir, Al-Jurjani dan Ibn
Sina memberikan pengertian hikmah yang secara tekstual berbeda namun secara
kontekstual tetap sejalan. Salah satu diantaranya yang didefinisikan oleh Ibn
Sina. Menurutnya hikmah adalah mencari kesempurnaan diri manusia dengan menggambarkan segala
urusan dan mebenarkan segala hakikat baik yang bersifat toeri maupun praktik
menurut kadar kemampuan seseorang.
Salah satu sub-bagian
dari bagian ini adalah penjelasan tentang pengertian ilmu, persamaan dan
perbedaan antara filsafat dan ilmu. Oleh penulis, dijelaskan bahwa ilmu adalah
bagian dari penegtahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang terklasifikasi,
tersistem dan terukur serta dapat dibuktikan kebenarannya secra empiris.
Sementara pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense yang belum
tersusun secara sistematis baik mengenai metafisik maupun fisik. Penulis juga
menyimpulkan bahwa filsafat ilmu merupakan kajian secara mendalam tentang
dasar-dasar ilmu sehingga filsafat ilmu perlu menjawab persoalan ontologis
(obyek telaah), epistemologis (proses, prosedure, mekanisme) dan aksiologis
(untuk apa)
Yang terakhir dari
bagian ini adalah penjelasan tentang tujuan filsafat ilmu. Dalam buku ini
diberikan 5 tujuan filsafat ilmu dan salah satunya adalah memberikan penegasan
bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan, antara ilmu dan agama sama sekali
tidak ada pertentangannya.
Bagian kedua dari
buku ini menjelaskan tentang sejarah perkembangan filsafat yang dibagi dalam
tiga periode. Periode pertama merupakan masa awal dari kaum filosof alam yang
dimulai dari Thales hingga Parmanides. Dalam periode pertama, para filosof
dengan segala pendapat dan pandangan yang berbeda-beda, dianggap tidak dapat
memberikan jawaban yang memuaskan tentang manusia dan kebenaran.
Periode berikutnya
yang dikenal dengan sebutan periode kaum “sofis” yang dimotori oleh Protagoras
yang menyatakan bahwa manusia adalah ukuran kebenaran yang merupakan cikal
bakal humanisme. Kaum sofis memberikan ruang gerak pada ilmu untuk berkembang,
berspekulasi dan merelatifkan teori ilmu. Mereka beranggapan bahwa ilmu itu
terbatas tetapi proses mencari ilmu tak terbatas. Periode berikutnya adalah
filosof yang menentang pandangan kaum sofis tentang relativisme kaum sofis.
Periode ini dimotori oleh Sokrates, Plato dan Aristoteles. Socrates terkenal dengan semboyannya “kenalilah dirimu sendiri” Plato murid Socrates yang cerdas mampu “mendamaikan” pandangan Hiraklitos dan Parmanides serta Aristoteles murid Plato yang lebih dikenal dengan analisis silogisme-nya. Aristoteles juga merupakan filosof rasionalisme penutup dari filsafat Yunani yang mampu membagi filsafat dalam dua bagian yaitu yang bersifat teoritis dan praktis.
Periode ini dimotori oleh Sokrates, Plato dan Aristoteles. Socrates terkenal dengan semboyannya “kenalilah dirimu sendiri” Plato murid Socrates yang cerdas mampu “mendamaikan” pandangan Hiraklitos dan Parmanides serta Aristoteles murid Plato yang lebih dikenal dengan analisis silogisme-nya. Aristoteles juga merupakan filosof rasionalisme penutup dari filsafat Yunani yang mampu membagi filsafat dalam dua bagian yaitu yang bersifat teoritis dan praktis.
Pada bagian ini juga
dijelaskan sejarah perkembangan ilmu yang dibagi dalam tiga periode pula yaitu
: perkembangan ilmu zaman Islam, kemajuan ilmu zaman Renaisans dan modern serta
kemajuan ilmu zaman Kontemporer. Perkembangan pengetahuan zaman Islam dimulai
sejak peristiwa Fitnah Al-Kubra yang dimotori oleh Abdullah Ibn Umar dan
Abdullah Ibn Abbas. Kemajuan pesat mencapai puncaknya dizaman pemerintahan
Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah. Salah satu pelopornya adalah Al Mansur
yang memerintahkan penerjemahan buku-buku filsafat Yunani kedalam bahasa Arab.
Namun kejayaan Islam
ini akhirnya jatuh dan runtuh hingga mencapai titik terendah pada abad ke-18 M.
Kemunduruan ini oleh Iqbal disebabkan karena diterimanya faham Yunani yang
menyatakan bahwa ilmu itu statis adanya, padahal sesungguhnya ilmu menurut
pandangan Islam adalah sesuatu yang dinamis. Menurut Amin Abdullah ilmu itu
selalu mengalami pergeseran (shifting paradigm) karena merupakan kegiatan histories
yang terkait dengan ruang dan waktu. Zaman renaisans dipelopori oleh salah
satunya yaitu N. Copernicus dan. Copernicus terkenal teori Heliosentris-nya.
Revolusi
pemikiran ini memicu pertentangan antara pemikir dan gereja Katolik Roma.
Akibat revolusi pemikiran ini melahirkan F. Bacon dengan Knowledge is
Power-nya, Tycho Brahe dengan gugusan bintang Cassiopeia-nya, Y. Keppler dengan
ilmu Asronomi-nya, Galileo dengan ilmu gerak-nya serta Napier dengan logaritma
berbasis e-nya dan sedert nama lainnya. Perkembangan zaman modern dipelopori
oleh I. Newton dengan teori grafitasi-nya yang selanjutnya berkembang ilmu
kimia yang dipelopori oleh J. Black dengan CO2-nya sampai pada masa penemuan
elektron oleh J.J Thompson yang menggugurkan teori atom sebagai bahan terkecil
yang tidak dapat berubah dan bersifat kekal. Yang terakhir dijelaskan dalam
bagian ini adalah kemajuan ilmu zaman kontemporer adalah kemajuan ilmu yang
kita alami sekarang ini meliputi semua bidang ilmu dan teknologi. Beberapa
diantaranya adalah kajian ilmu sosial
keagamaan yang
ditulis oleh Clifford Geertz tentang santri, priyayi dan abangan. Embryo
splitting technique oleh Jerry Hall, Teknologi Informasi dan lain lainnya.
Bagian ketiga buku
ini menjelaskan tentang Pengetahuan dan Ukuran Kebenaran. Banyak definisi yang
dikemukan dalam buku ini, namun salah satu diantaranya yang menyatakan :
pengetahuan adalah kebenaran. Disepakati bahwa ada empat macam pengetahuan
yaitu pengetahuan biasa (common sense), pengetahuan ilmu (pengetahuan common
sense yang terorganisasi dan sistematis)) dan pengetahuan filsafat serta
pengetahuan agama. Secara teori, hakikat pengetahuan dapat diperoleh melalui
dua pandangan yaitu pandangan realisme dan idealisme. Pengetahuan menurut
pandangan realisme adalah gambaran atau copy dari yang sebenarnya ada dalam
alam nyata, artinya pengetahuan adalah benar dan tepat jika sesuai dengan
kenyataannya, sementara ajaran idealisme menegaskan bahwa pengetahuan yang
benar-benar sesuai dengan kenyataan adalah mustahil, pengetahuan adalah sebuah
proses mental/psikologis yang bersifat subyektif.
Pada bagian ini juga
dijelaskan bahwa ada tiga sumber pengetahuan yaitu secara empiris yaitu melalui
pengalaman. John Locke adalah bapak empirisme dengan teori tabula rasanya.
Kelemahan dari teori ini terletak pada kelemahan/keterbatasan indera sebagai
pengumpul pengalaman. Teori yang kedua adalah rasionalisme yang lebih
mengutamakan pada kemampuan akal sebagai dasar kepastian pengetahuan.
Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal melalui kegiatan
menangkap obyek.Intuisi adalah salah satu sumber pengetahuan yang merupakan
hasil dari evolusi pemahaman yang tertinggi, demikian yang dikatakan oleh Henry
Bergson. Sumber pengetahuan tertinggi adalah wahyu yang merupakan penyampaian
pengetahuan langsung dari Allah S.W.T melalui nabi dan rasul-Nya tanpa upaya,
tanpa bersusah payah dan tanpa memerlukan waktu untuk mendapatkannya.
Pengetahuan para nabi dan rasul terjadi atas kehendak Allah S.W.T dengan
mensucikan jiwa mereka dan diterangkan-Nya jiwa mereka untuk memperoleh
kebenaran melalui wahyu.
Penjelasan tentang
ukuran kebenaran juga merupakan sub-bagian dari bagian ketiga buku ini.
Berpikir adalah suatu proses untuk memperoleh kebenaran, namun kebenaran yang
didapat adalah kebenaran yang bersifat relatif. Karena sifat relatifnya itulah
maka dibuat kategari kebenaran dalam tiga jenis yaitu kebenaran epistemologis,
kebenaran ontologis dan kebenaran semantis. Kebenaran epistemologis adalah
kebenaran yang berhubungan dengan pengetahuan manusia, kebenaran dalam
ontologis adalah kebenaran sesebagai sifat dasar yang melekat pada hakikat
segala sesuatu yang ada atau duadakan dan kebenaran semantis adalah kebenaran
yang terdapat dan melekat dalam tutur kata dan bahasa.
Dalam bagian ini yang
dijelaskan hanya kebenaran epistemologis saja dengan anggapan penulis bahwa
kebenaran ontologis dan semantis sudah tercakup didalamnya. Ada empat teori
yang menjelaskan tentang kebenaran epistemologi yaitu yang pertama adalah teori
korespondensi, yang menyatakan bahwa kebenaran adalah kemanunggalan antara
subyek (esensi yang diberikan) dengan obyek (esensi yang melekat pada
obyeknya). Kedua adalah teori koherensi yang menyatakan bahwa kebenaran
ditegakkan atas hubungan antara putusan yang baru dengan putusan-putusan sebelumnya
yang telah diketahui dan diakui kebenarannya terlebih dahulu. Disebut koheren
jika memenuhi empat syarat penegrtian yang bersifat psikologis, logis,
kepastian dan keyakinan tidak dapat dikoreksi dan kepastian yang dignakan dalam
pembicaraan umum. Teori kebenaran yang ketiga adalah pragmatisme kebenaran yang
menyatakan bahwa benar tidaknya sesuatu ucapan, dalil semata-mata bergantung
pada azas manfaat (bersifat fungsional bagi manusia) dan teori terakhir adalah
agama sebagai teori kebenaran. Dalam teori ini sesuatu dinyatakan benar apabila
sesuai dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak.
Bagian
terakhir dari bab ini adalah klasifikasi dan hierarki ilmu. Al-Farabi,
Al-Ghazali, Quthb al-Din dan Muhammada al-Bahi adalah cendekiawan muslim yang
banyak menulis tentang klasifikasi ilmu. Al-Ghazali adalah salah satunya yang
memberikan pengklasifikasian ilmu yang terdiri dari ilmu syar’iyyah dan
aqliyyah. Ilmu Syar’iyyah meliputi al-ushul yaitu ilmu tauhid, kenabian,
akhirat dan sumber ilmu (Al-Qur’an, Hadist, ijma dan tardisi sahabat), furu
yaitu : ilmu ibadah, muamalah dan akhlak. Sementara ilmu Aqliyyah meliputi
matematik, logika, fisika, kedokteran, kimia dan ilmu tentang metafisika.
Bagian keiga dari
buku ini membahas tentang Dasar-dasar Ilmu yang dibagi atas tiga bagian yaitu
ontologis, epistemologi dan aksiologi yang secara ringkas dapat dituliskan
sebagai berikut.
Secara istilah
ontologi adalah ilmu yang memperlajari tenatng hakikat yang ada (ultimate
reality) baik jasmani/konkret maupun rohani/abstrak. Didalam pemahaman ontologi
ditemukan pandangan-pandangan seperti monoisme yang menyatakan bahwa hakikat
yang asal itu hanya satu. Cabang dari monoisme ini adalah materialisme yang
berpandangan bahwa hakikat yang asal adalah satu yaitu dari materi, sementara
cabang lainnya yaitu idealisme yang berpandangan bahwa segala yang asal itu
berasal dari ruh.Pandangan lainnya adalah dualisme yang menyatakan bahwa segala
sesuatu berasal dari dua unsur yaitu materi dan ruh, jasmani dan rohani. Pandangan
lainnya adalah pluralisme yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun
dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas yaitu unsur tanah, air, api
dan udara. Ada juga faham nihilisme yang nampaknya frustrasi menghadapi
relaitas. Realitas harus dinyatakan tunggal dan banyak, terbatas dan
takterbatas, dicipta dan takdicipta, semuanya serna kontradiksi, sehingga lebih
baik tidak menyatakan apa-apa tentang realistas. Pandangan terakhir yang
dikemukan oleh penulis adalah agnostisisme yang merupakan pemahaman yang
menolak realitas mutlak yang bersifat trancendental.
Epistemologi atau
teori pengetahuan adalah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan ilmu
pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung-jawaban
atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Pengetahuan yang diperoleh
manusia melalui akal, indera dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalam
teori ilmu pengetahuan diantaranya metode induktif, metode deduktif, metode
positivisme, metode kontemplatif, dan metode dialektis. Dengan kamajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi saat ini, Gregory Bateson menilai kemajuan ini
cenderung memperbudak manusia akibat dari kesalahan epistemologi barat dan ini
harus diluruskan.
Upaya pelurusan kekeliruan
epistemologi barat dapat dilakukan dengan memanfaatkan aksiologi. Aksiologi
mempunyai banyak definisi, salah satu diantaranya dikemukakan oleh Bramel bahwa
aksiologi terdiri dari tiga bagian yaitu moral conduct, esthetic expression dan
sosio-political life. Aksiologi harus membatasi kenetralan tanpa batas terhadap
ilmu pengetahuan, dalam arti bahwa kenetralan ilmu pngetahuan hanya sebatas
metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya haruslah berlandaskan pada
nilai-nilai moral .
Bab
terakhir dari buku ini membahas tentang sarana ilmiah. Bahasa, matematika dan
statistik serta logika merupakan sarana untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
Dengan kemampuan kebahasaan akan terbentang luas cakrawala berpikir seseorang
sehingga tiada batas dunia baginya. Matematika juga merupakan bahasa yang
melambangkan serangkaian makna dari serangkaian pernyataan yang ingin
disampaikan. Lambang-lambang matermatika bersifat artifisial yang mempunyia
arti tersendiri. Sementara buku ini mendefenisikan statistika sebagai
sekumpulan metoda untuk membuat keputusan yang bijaksana dalam keadaan yang
tidak menentu. Sarana ilmiah lainnya adalah logika. Logika adalah sarana untuk
berfikir sistematis, valid dan dapat dipertanggung-jawabkan. Untuk mendapatkan
sebuah kesimpulan, mungkin membutuhkan pemikiran yang rumit, panjang dan
berliku-liku, sehingga diperlukan hukum-hukum pikiran beserta mekanisme yang
dapat digunakan secara sadar untuk mengontrol perjalanan pikiran yang sulit dan
panjang itu. Buku ini menyebutkan ada tujuh aturan berpikir dengan benar yaitu
: mencintai kebenaran, menyadari apa yang dikerjakan, menyadari apa yang
dikatakan, dapat membedakan dua hal yang “sama” tetapi tidak “identik”,
mencintai definisi yang tepat, menyadari kenapa membuat kesimpulan demikian dan
mampu menghindari dan mengindentifikasi kesalahan pemikiran.
Komentar:
A.
Kekurangan Isi Buku
1.
Dalam
filsafat dan hikmah, penulis belum memberikan kesimpulan dari makna filsafat dan hikmah menurut penulis. Jadi disitu penulis
hanya menuliskan dari para ahli.
2.
Belum secara
jelas menjelaskan hubungan antara filsafat dengan hikmah
3.
Dalam
pengertian ilmu, penulis kurang sitematis dalam penulisannya, seharusnya
dituliskan terlebih dahulu definisi ilmu menurut ahli baru ciri-ciri utama ilmu
4.
Dalam
persamaan filsafat dan ilmu, karena keduanya sama-sama mempunyai metode dan
sistem mungkin perlu diberi tambahan metode dan sistemnya itu seperti apa
supaya lebih jelas
5.
Dalam
penyampaian ilmu dan filsafat Yunani ke dunia Islam disebutkan bahwa Plato dan Aristoteles telah memberikan pengaruh besar
pada mazhab-mazhab Islam,
khususnya mazhab eklektisisme. Mazhab eklektisisme tidak dijelaskan apa itu artinya sehingga pembaca
akan kebingungan ataupun akan bertanya-tanya apa itu mazhab eklektisisme.
6.
Masa
keruntuhan tradisi keilmuan dalam islam disebutkan bahwa salah satu faktor
kemunduran tradisi intelektual dan keilmuan di dunia islam adalah
kesulitan-kesulitan ijtihad dan mistisisme asketik. Namun disitu tidak
dijelaskan lebih lanjut apa maksud dan penjelasannya sehingga pembaca kurang
paham akan maksudnya.
7.
Masih banyak terdapat
kekeliruan dalam penulisannya. Penulis mendapatkan banyak kesalahan dalam
penulisan kaidah bahasa Indonesia Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Misalnya
penulis menemukan kesalahan dalam pmulisan istilah-istilah asing. Seharusnya ketika
mengutip istilah-istilah asing dalam menyusun karya ilmiah,
seharusnya dimiringkan. Tetapi kenyataan yang ditemukan penulis dalam buku ini
tidak dimiringkan sebagian penulisan istilah asing. Hal ini dapat dilihat pada
(hlm.200). Istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut.
a.
theory of error (salah) seharusnya di tulis theory of
error (benar)
b.
continuous distribution (salah) seharusnya di tulis continuous
distribution (benar)
c.
least squarers (salah) seharusnya
di tulis least squarers (benar)
d.
varians dan covarians (salah) seharusnya di tulis varians dan covarians
(benar)
B.
Kelebihan Isi Buku
1.
Terkandung penjelasan
yang global tentang filsafat dan ilmu, serta hubungannya seperti yang tersebut
diatas.
2.
Disajikan
secara runtut sehingga dapat mengantar pembaca berpikir secara sistematis
3.
Menggunakan
bahasa yang mudah dimengerti oleh pembaca sehingga mempermudah pembaca dalam
memahami maksud isi buku
4.
Bermanfaat membantu
para mahasiswa dan dosen dalam perkuliahan. Kemudian, pembaca dari luar kalangan
akademis buku tersebut juga sangat berguna terutama untuk menyelami dan
memperluas wawasan tentang hakikat dan makna filsafat ilmu secara
filosofis.
5.
Dapat menjadi pedoman
bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi diperguruan tinggi,
terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan nonilmiah. Kemudian
memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan ilmu di
berbagai bidang khususnya bidang ilmu bahasa dan sastra
Indonesia, sehingga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu
kontemporer secara historis.
6.
Buku “Filsafat Ilmu”
yang di tulis oleh Dr.Amsal Bahtiar, M.A. sangat bermanfaat dalam pengembangan
dan pembinaan bahasa dan Sastra Indonesia. Menurut Bahtiar (2005: 3) mengatakan
bahwa tugas filsafat di antaranya adalah menyatukan visi keilmuan itu sendiri
agar tidak terjadi bentrokan antara berbagai kepentingan. Dalam konteks inilah
kemudian ilmu bahasa sebagai salah satu kajian filsafat
ilmu sangat relevan untuk dikaji dan di dalami.
Filsafat
ilmu sangat berperan sangat berperan untuk memberikan penyadaran seseorang
dalam berfikir ilmiah. Hal ini sangat penting karena berpikir ilmiah dapat
melahirkan penelaahan ilmiah secara baik dalam berkomunikasi. Bahasa sebagai
alat komunikasi verbal maupun nonverbal digunakan dalam berpikir ilmiah dan
alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain,
baik pikiran yang berlandaskan logika induktif maupun deduktif. Dengan kata
lain, kegiatan berpikir ilmiah ini sangat berkaitan erat dengan bahasa. Inilan
yang mendasari penulis, mengatakan bahwa filsafat ilmu sangat berperan dalam
pengembangan dan pembinanaan bahasa. Karena filsafat mendorong seseorang untuk
berpikir kritis, berpikir ilmiah dalam berkomunikasi dalam kehidupan.
DATA
BUKU
Judul Buku :
Filsafat Ilmu
Penulis : Dr. Cecep Sumarna
Penerbit : CV. Mulia Press, Bandung
Tahun Terbit : 2008
Tebal Buku :
271 halaman
ISI BUKU
MENGAPA FILSAFAT ILMU
Sebelum membahas lebih jauh tentang filsafat ilmu,
maka penulisan dalam buku ini diawali dengan pertanyaan mengapa filsafat ilmu ?
Tentu saja dari maksud diawali dengan pertanyaan tersebut, bahwa penulis
berusaha mengajak pembacanya untuk lebih tertarik guna mengenal dan mendalami
filsafat ilmu, serta membenarkan beberapa kekeliruan pandangan terhadap
filsafat ilmu, dan menyatakan bahwa filsafat ilmu bukanlah ilmu filsafat.
Pada bab ini diulas
pula tentang lahirnya filsafat ilmu, dimana filsafat di satu sisi dapat menjadi
pembuka lahirnya ilmu, di sisi lainnya, juga dapat menjadi pembuka lahirnya
ilmu, di sisi lainnya juga dapat berfungsi sebagai cara kerja akhir ilmuwan . ”Sombongnya”, filsafat sering disebut sebagai induk ilmu
(mother of science) dan sekaligus menjadi pamungkas
keilmuan yang dalam beberapa hal tidak dapat diselesaikan oleh ilmu.
Kenapa demikian ? Sebab filsafat dapat merangsang
lahirnya sejumlah keinginan dari temuan filosofis melalui berbagai observasi
dan eksperimen yang melahirkan berbagai pencabangan ilmu. Realitas juga menunjukkan
bahwa hampir tidak ada satu cabang ilmu pun yang lepas dari filsafat atau
serendahnya tidak tidak terkait dengan persoalan filsafat. Bahkan untuk
kepentingan perkembangan ilmu itu sendiri, lahir suatu disiplin filsafat yang
khusus mengkaji ilmu pengetahuan. Rumusan ilmu dimaksud disebut filsafat
pengetahuan, yang berkembang dalam cabang baru yang disebut sebagai filsafat
ilmu.
SEJARAH ILMU
PENGETAHUAN
Pada bab ini, Dr. Cecep Sumarna, sang penulis buku,
menjelaskan tentang sejarah ilmu pengetahuan yang dimulai dari cara berpikir
manusia yang berbau mistik. Yunani Kuno memiliki peranan penting dalam
melakukan proses perubahan paradigm berpikir manusia dari sesuatu berbau mistik
ke dunia ilmu, dunia logika, dunia factual, dunia terukur. Para filosof
besar Yunani Kuno seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles, mampu membalikkan
mitos atau mistik menjadi ilmu. Yunani kuno didukung kuat dan luasnya aspek
mitos di kalangan masyarakat. Harus pula diakui, bahwa mitos dapat menjadi
perintis filsafat. Melalui mitos, manusia mampu melakukan percobaan untuk
mengerti tentang sesuatu secara filosofis-spekulatif,
Mite (kata
besar dari mitos) dapat mencari keterangan tentang asal usul alam semesta dan
kejadian yang berlangsung di dalamnya. Mite mampu
memberikan jawaban atas sejumlah pertanyaan dasar tentang asal usul alam
semesta. Jawaban yang diberikan mite atas
pertanyaan dasar tentang asal usul alam semesta ini, secara teoretik kemudian
disebut dengan kosmogonis. Ketika sudah menjadi
kajian
kosmogonis, tentu tidak
lagi murni mistik Tetapi sedikit banyak sudah filosofis sekaligus sedikit
banyak ilmiah, dan lahirlah ilmu pengetahuan.
Di samping berbicara tentang sejarah ilmu pengetahuan
yang cakupannya di wilayah Yunani Kuno, Cecep Sumarna selaku penulis buku ini,
juga memiliki asumsi bahwa dunia Islam sebagai penyelamat ilmu pengetahuan
Yunani Kuno.
MENGENAL
FILSAFAT
Pada bab ini, penulis
mengajak kita untuk lebih mengenal filsafat dengan memahami filsafat itu
sendiri. Dijelaskan dalam bab ini bahwa filsafat berasal dari bahasa
Yunani, philosophia dan philosophos,
terstruktur dari kata philos dan Sophia atau philos dan shopos. Philos berarti
cinta, dan sophia atau shopos berarti kebijaksanaan, pengetahuan
tertinggi, hikmah.
Dalam arti yang agak umum, filsafat dapat digunakan
untuk menjawab berbagai pertanyaan yang muncul dalam pikiran manusia tentang
berbagai kesulitan yang dihadapinya, serta berusaha untuk menemukan solusi yang
tepat. Misalnya ketika kita menanyakan : “Siapa kita? Darimana kita berasal ?
Mengapa kita ada di suatu tempat ? Kemana kita akan pergi dan berlalu ? Apa
yang dimaksud dengan kebenaran dan kebathilan ? Dan apakah yang dimaksud dengan
kebaikan dan kejahatan ?
Namun demikian, dalam
bab ini juga diungkapkan bahwa filsafat dapat juga diartikan dalam arti yang
khusus. Dalam arti ini, kata filsafat
biasanya bersinonim dengan sistem dari sebuah madzhab tertentu dalam filsafat.
Misalnya, filsafat dirangkaikan dengan salah seorang filosof, seperti
filsafat Aristoteles atau filsafat Plato. Rangkaian kata filsafat dengan
nama seorang filosof tertentu mengindikasikan bahwa setiap filosof dengan
aktivitas filsafat yang dilakukannya bermaksud membangun suatu bentuk
penafsiran yang lengkap dan menyeluruh terhadap segala sesuatu yang diyakini
kebenarannya oleh filosof tertentu itu.
Selanjutnya, penulis menjelaskan juga tentang ciri
berpikir filsafat dengan ciri-ciri sebagai berikut : radikal, sistemik,
universal dan spekulatif. Berpikir radikal artinya berpikir sampai ke
akar persoalan. Sistemik adalah berpikir logis, yang bergerak selangkah demi
selangkah, penuh kesadaran, berurutan dan penuh rasa tanggung jawab. Universal
artinya berpikir secara menyeluruh tidak terbatas pada bagian-bagian tertentu,
tetapi mencakup keseluruhan aspek, yang konkret dan abstrak atau yang fisik dan
metafisik. Terakhir, spekulatif, karena seorang filosof memiliki cara berpikir
yang spekulatif, maka seorang filosof terus melakukan ujicoba dan memberikan
pertanyaan terhadap kebenaran yang dianutnya.
METAFISIKA
Buku yang berjudul Filsafat Ilmu ini, menjelaskan pula tentang metafisika. Dalam filsafat ilmu, metafisika perlu
dibahas, karena memiliki nilai guna sebagai bahan studi atau pemikiran tentang
sifat tertinggi atau terdalam (ultimate nature)
dari keadaan atau kenyataan yang tampak nyata dan variatif. Melalui pengkajian
dan penghayatan terhadap metafisika, manusia
akan dituntun pada jalan dan penumbuhan moralitas hidup.
Hubungan
antara metafisika dengan filsafat ilmu dapat diibaratkan
seperti hubungan dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan meski gampang
dibedakan. Filsafat ilmu membincangkan persoalan metafisika lebih karena hampir tidak ada ilmupun
yang terlepas dari persoalan metafisika. Bahkan
dalam banyak hal, ilmu dan pengkaji ilmu (ilmuwan) yang kering makna metafisika akan berakibat pada keringnya makna
ilmu itu sendiri. Tentu ini subjektif, tetapi kelihatannya sangat sulit
ditolak.
SUMBER ILMU
PENGETAHUAN
Sumber ilmu pengetahuan yang menjadi kajian di bab ini adalah aspek-aspek yang
mendasari lahirnya ilmu. Aspek-aspek tadi, mungkin telah memperlihatkan
perkembangan yang ada atau mungkin muncul di tengah kehidupan manusia.
Cecep
Sumarna, sang penulis, memberikan penekanan tentang pentingnya mengkaji sumber
ilmu pengetahuan didasarkan atas : 1) Adanya perbedaan pandangan di kalangan
filosof dan saintis tentang apa yang
menjadi sumber ilmu ; dan 2) Perbedaan ini ternyata berkonsekwensi pada
perbedaannya paradigma yang dianut masing-masing komunitas masyarakat dalam
memandang dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan.
Dilihat dari sejarah, lahirnya sumber ilmu pengetahuan
seperti terlihat dalam corak ilmu pengetahuan Barat kontemporer, namun
sebenarnya berakar dari tradisi dialektis filosof Yunani pada abad kelima dan
keempat sebelum masehi.
Perlu diketahui pula, ada cara lain yang juga dapat
disebut sebagai sumber pengetahuan, yaitu intuisi dan wahyu. Kelompok yang
menganggap bahwa intuisi dan wahyu dapat menjadi sumber pengetahuan adalah
mereka yang masih menjunjung tinggi peranan wujud tertentu di laut dzat atau
benda fisik yang tampak dan dapat dibuktikan oleh alat indera manusiawi.
Intuisi dapat juga dianggap dapat menjadi sumber
pengetahuan karena melalui intuisi manusia mendapati ilmu pengetahuan secara
langsung tidak melalui proses penalaran tertentu. Melalui intuisi, menurut
Cecep Sumarna, manusia secara tiba-tiba menemukan jawaban dari permasalahan
yang dihadapinya.
PENALARAN : SARANA
BERPIKIR ILMIAH
Pada bab ini, Cecep Sumarna mencoba mengenalkan kepada pembacanya tentang
penalaran yang merupakan sarana berpikir ilmiah. Seseorang telah melakukan
pentalaran dengan benar, dan karena tidak disebut telah memiliki ciri berpikir
nalar, apabila ia memperlihatkan pemikirannya yang logic dan analytic. Logika
adalah suatu kegiatan berpikir dengan menggunakan suatu pola tertentu atau
menurut logika tertentu, ketidak konsistenan dalam menggunakan alur logika,
dapat menyebabkan kekacauan penalaran. Sedangkan analitik adalah kegiatan
berpikir yang menyandarkan diri kepada logika ilmiah dengan menggunakan langkah-langkah
tertentu dalam bingkai ilmiah tadi. Cara berpikir tertentu baru termasuk ke
dalam suatu penalaran yang benar, apabila ia menggunakan penalaran yang logis
dan analitik.
Dengan demikian, pada intinya yang diungkapkan oleh
Cecep Sumarna pada bab ini adalah bahwa sarana berpikir ilmiah berlandaskan
pada logika. Dengan kata lain, logika adalah cara penalaran dalam menarik
kesimpulan, untuk memperoleh cara berpikir yang lebih shahih.
Dalam praktisnya, serendahnya terdapat dua cara
penarikan kesimpulan melalui cara kerja logika. Dua cara itu adalah : induktif
dan deduktif. Logika induktif diartikan sebagai penarikan kesimpulan dari
kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum dan
rasional. Logika deduktif adalah cara penarikan kesimpulan dari hal-hal yang
bersifat umum rasional menjadi kasus-kasus yang bersifat khusus sesuai fakta di
lapangan. Dalam implementasinya, kedua cara penarikan kesimpulan ini memiliki
implikasi yang amat luas, yang secara perlahan-lahan akan terurai melalui
berbagai penjelasan di bab berikut buku ini.
METODE BERPIKIR ILMIAH
Metode berpikir ilmiah adalah prosedur, cara dan teknik memperoleh pengetahuan.
Meski tidak semua pengetahuan didapatkan melalui metode atau pendekatan ilmiah,
tetapi apa yang disebut dengan ilmu, harus didapatkan melalui pendekatan dan
metode ilmiah. Kaidah filsafat ilmu, bahkan disebut bahwa suatu pengetahuan,
baru dapat disebut sebagai ilmu, apabila cara perolehannya dilakukan melalui
kerangka kerja ilmiah. Salah satu cara kerja ilmiah dimaksud disebut metode
ilmiah.
Dengan menggunakan metode berpikir ilmiah, manusia
terus menerus mengembangkan pengetahuannya. Dengan metodenya manusia terus
memperoleh kenikmatan dan kebahagiaan hidup. Perspektif ini oleh sang penulis
buku ini dikatakan hanya akan terwujud sikap ingin tahu manusia dan itu semua
dilakukan melalui metode berpikir tertentu yang disebut dengan metode berpikir
ilmiah. Manusia memiliki sifat ketergantungan yang luar biasa terhadap
pengetahuan. Sifat ingin tahu yang melekat pada diri manusia, telah mendorong
manusia untuk mengungkapkan pengetahuan, meski dengan berbagai cara dan
pendekatan yang digunakan.
Yang perlu kita ketahui dalam hal ini, bahwa secara
historis, ada empat cara manusia memperoleh pengetahuan, yaitu : 1) Berpegang
pada suatu yang telah ada (metode keteguhan); 2) Merujuk kepada
pendapat ahli (metode otoritas); 3) Berpegang pada
intuisi (metode intuisi), dan ; 4) menggunakan metode ilmiah.
MENYUSUN PROPOSAL
PENELITIAN
Kegiatan ilmiah, biasanya dilakukan melalui
penelitian. Sebuah penelitian biasanya diawali dari penyusunan proposal atau
rencana penelitian. Sehingga di dalam buku ini, sang penulis, Cecep Sumarna,
mengemukakan tentang beberapa langkah yang harus ditempuh peneliti dalam
merumuskan proposal penelitian. Langkah-langkah dimaksud adalah : latar
belakang masalah, identifikasi masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian,
menyusun kerangka teoritis, metode penelitian, menyusun laporan penelitian, dan
menyusun kesimpulan. Selain susunan di atas, dalam penelitian juga dilengkapi
oleh abstrak, daftar pustaka dan riwayat hidup peneliti.
ETIKA
Etika adalah salah satu unsure penting yang terdapat dalam teori nilai. Kata
teori nilai yang terdiri dari dua suku kata, yakni teori dan nilai itu,
tampaknya merupakan terjemahan dari bahasa Yunani, logos (akal dan teori) dan aksios (nilai atau suatu yang berharga).
Para
ahli filsafat sering menyebut teori nilai sama dengan aksiologi. Seperti diketahui bahwa aksiologimerupakan bagian dari tiga cabang besar
filsafat ilmu, yakni : ontology, epistemology dan
aksiologi. Aksiologi sering disebut sebagai ilmu yang melakukan penyelidikan mengenai kodrat,
criteria dan status metafisik dari nilai.
Nilai disebut aksiologi, karena cabang filsafat ini menyelidiki
hakikat nilai ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Louis O. Kattsoff
menyebutkan beberapa cabang pengetahuan yang terkait dengan masalah nilai, atau
setidaknya berkeperluan terhadap nilai. Nilai dimaksud seperti ekonomi, etika,
estetika, filsafat agama dan epistemology kebenaran. Bidang –bidang ini menurut
Kattsoff, mesti dibingkai dalam kaidah nilai. Sebab betapapun tingginya capaian
fisik yang dihasilkan dari basis keilmuan di atas, ia tetap akan kehilangan
nilai substantifnya, tanpa nilai yang mengidealisir system bangunannya.
Sehingga di dalam bab ini, Cecep Sumarna sang penulis
buku ini, berupaya menonjolkan semangat pada bab ini yang akan menguraikan
tentang nilai dalam ilmu. Bagaimana nilai harus diterapkan ketika berhadapan
dengan wilayah keilmuan? Apakah nilai dapat disusun dalam rumusan tunggal
sehingga diakui bahwa nilai itu mengandung makna universalnya atau tidak ? Lalu
bagaiman ilmuwan dan kita semua bersikap ketika fakta menunjukkan bahwa
penilaian terhadap nilai itu subjektif? Sebatas mana pula subjektivitas itu
ditoleransi? Inilah urgensi terpenting dari kajian bab ini.
ESTETIKA
Di dalam bab estetika ini, penulis buku mengawali tulisannya dengan suatu
ungkapan yang cukup membuat orang penasaran untuk lebih memahami bab ini, yaitu
: menarik tidak untuk tertarik, mencintai tidak untuk memiliki,
memiliki tidak untuk mencintai, memiliki tidak untuk menikmati, bahkan
menikmati tak berarti harus mencintai dan memiliki.
Bab
ini juga diawali dengan contoh-contoh penilaian estetika dari kaum adam
terhadap kaum hawa yang di dalam penilaian tersebut tidak terlepas dari
penilaian yang subjektif. Namun, yang perlu kita perhatikan dalam estetika
adalah bahwa estetika merupakan bagian dari tritunggal, yakni
teori tentang kebenaran (epistemologi),
kebaikan dan keburukan (etika) dan keindahan
itu sendiri (estetika). Estetika misalnya berbicara mengenai hakikat
keindahan. Selain itu, estetika juga berbicara tentang teori mengenai seni.
Seni yang melukiskan bahasa perasaan.
Dengan demikian, estetika berarti suatu teori yang
meliputi : 1) Penyelidikan mengenai yang indah; 2) Penyelidikan mengenai
prinsip-prinsip yang mendasari seni; dan 3) Pengalaman yang
bertalian dengan seni, penciptaan seni, penilaian terhadap seni atau perenungan
terhadap seni.
BAHASA & NOTASI
ILMIAH
Di lautan yang teduh, setiap orang kemungkinan dapat menjadi nakhoda perjalanan.
Kalimat ini menjadi awal tulisan dalam bab ini, yang pada hakekatnya penulis
buku ini ingin mengutarakan tentang fungsi bahasa dalam komunikasi. Setiap
komunikasi, pasti menggunakan bahasa. Bahasa adalah sarana berpikir. Bahasa
berguna untuk menjadi alat komunikasi dalam menyampaikan jalan pikiran dirinya kepada
orang lain. Melalui bahasa, manusia tidak mungkin berpikir secara sistematis.
Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan
manusia. Dengan bahasa, manusia mampu melakukan abstraksi sekaligus simbolisasi
dari realitas faktual empiris ke dalam dunia ide.
Bahasa dapat mendorong manusia melakukan proses
transformasi. Melalui bahasa, manusia dapat melakukan proses berpikir dengan
cara menarik realitas factual ke dalam dunia ide, meski objek-objek faktual
dimaksud tidak lagi factual-empiris dan telah berada di luar jangkauan dirinya.
Melalui bahasa manusia dapat melakukan komunikasi apa saja dari satu subjek
kepada objek lain.
Bahasa
itu sendiri kadang tertuang dalam bentuk tulisan. Sehingga penulis buku ini,
Cecep Sumarna, berupaya memberikan penekanan terhadap tulisan yang memiliki
peranan yang cukup kuat dalam mempengaruhi pikiran manusia. Di dalam tulisan
ilmiah, mensyaratkan adanya notasi ilmiah. Ia berfungsi untuk menjadi alat ukur
penegakkan prinsip kejujuran ilmiah. Prinsip dasarnya, setiap pemikiran tidak
pernah berdiri sendiri, sebagai sesuatu yang benar-benar baru. Setiap
pengetahuan selalu dan pasti merupakan tumpukan dan lanjutan dari satu item kepada item lain.
Ada tiga bentuk
sistem notasi ilmiah. Ketiga bentuk dimaksud adalah : Pertama, harus teridentifikasi dari siapa penulis
melakukan rujukan. Kedua, media
atau alat komunikasi yang dijadikan oleh mereka yang pikirannya disadur. Ketiga, juga harus jelas lembaga yang menerbitkan
tulisan mereka yang oleh penulisan pikirannya disadur. Masuk dalam ranah ini,
termasuk tahun penerbitan dan halaman berapa mereka menulis.
Dalam bentuknya,
notasi ilmiah dibagi ke dalam tiga bentuk. Ketiga bentuk dimaksud adalah : 1)
Catatan kaki (foot note); 2) In Note (catatan
di dalam tulisan), dan 3) End Note (diletakkan
di akhir tulisan).
PENUTUP
Buku yang ditulis oleh Cecep Sumarna ini, pada
hakekatnya ingin mengungkapkan tentang pengetahuan, ilmu dan anak turunannya
(teknologi) yang selalu menjadi perhatian orang. Wajar saja ini dituangkan
dalam tulisan ini, karena hampir setiap dinamika kehidupan manusia akan sangat
tergantung pada tiga persoaan di atas. Abad ini, yang disinyalir oleh berbagai
ahli sebagai abad informasi, telah menggeser paradigm berpikir masyarakat.
Perubahan paradigma dimaksud, salah satunya dipengaruhi kuat oleh perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan teknologi saat ini misalnya, bukan
hanya sekedar dijadikan alat, tetapi ia kini telah menjadi komoditi yang dapat
diperjual belikan dengan berbagai kepentingan.
Dihadapkan pada
kondisi tersebut di atas, maka penulis buku filsafat ilmu ini, yaitu Cecep Sumarna, beliau mampu mencermati
dan mengimbangi hal tersebut dengan menampilkan pemikirannya terhadap sesuatu
yang sedikit jarang dilakukan dan diperhatikan orang, dan ini menurut
saya cukup urgen untuk diteliti lebih jauh, yaitu pembahasan mengenai hakikat
pengetahuan, ilmu dan teknologi itu sendiri khususnya ketika harus berelasi
dengan manusia.
Harus diakui bahwa perhatian terhadap hal ini telah
melahirkan banyak aliran dalam filsafat dengan segala persamaan dan
perbedaannya, dan itu semua melahirkan filsafat ilmu yang dibahas secara
terperinci dalam buku ini oleh sang penulis Cecep Sumarna.
Tulisan ini merupakan obsesi Cecep Sumarna untuk
memajukan pola pikir bangsa ini serta mengembangkan, menguji dan membuat ilmu
dalam satu wadah khusus yaitu filsafat ilmu.
Namun, sebagai cendekiawan muslim, Cecep Sumarna dalam
mengembangkan tulisannya tentang filsafat ilmu masih berkiblat kepada
filosof-filosof Yunani. Walau demikian, terdapat upaya Cecep Sumarna untuk
mengimbangi kelemahannya ini dengan menampilkan beberapa filosof muslim, dan di
dalam buku ini juga dikemukakan tentang peranan dunia Islam sebagai penyelamat
ilmu pengetahuan Yunani Kuno. Di dalam buku ini juga terdapat semangat Cecep
Sumarna untuk melakukan islamisasi filsafat ilmu dan pengetahuan, namun
pengembangannya masih terbatas karena di dalam tulisannya masih terungkap
pandangan dan pemikiran para filosof Yunani Kuno, seperti Aristoteles, Socrates
dan lain-lain.
Walau demikian, perlu diakui, bahwa
pemikiran-pemikiran yang diangkat oleh Dr. Cecep Sumarna ini merupakan buah
karya anak muda yang produktif untuk membantu khazanah kita untuk memikirkan
atau ikut serta berpikir tentang masalah filsafat ilmu yang memegang peranan
penting dalam kehidupan manusia sehingga ilmunya dapat memberikan manfaat yang
positif bagi kelangsungan hidup umat manusia di muka bumi ini. (aagun/29042009)
DAFTAR PUSTAKA
http://profcecepsumarna.blogspot.co.id/2010/12/mengapa-filsafat-ilmu.html
http://hardinattyandini.blogspot.co.id/2011/04/reviuw-judul-buku-filsafat-ilmu.html

